Penjelasan "Kitab Suci Fiksi", Beserta Tujuannya

Penjelasan "Kitab Suci Fiksi", Beserta Tujuannya

Penjelasan "Kitab Suci Fiksi", Beserta Tujuannya

inilah penjelasan tentang kitab suci fiksi, beserta tujuannya
BacaNulis.Com - kalimat "Kitab Suci Fiksi" menjadi tren ketika ada narasumber di acara ILC yaitu Rocky Gerung yang melontarkan ke dalam forum. Beliau ingin memberikan pemahaman kepada publik penggunaan kata fiksi yang benar. Namun, sayang tidak semua publik dapat menerimanya dengan akal sehat.

Beberapa narasumber lain yang ada di dalam forum berdebat untuk membantah pernyataan yang dilontarkan oleh Rocky Gerung itu salah, dan sampai pula kepada lapor-malapor.

Sahabat BacaNulis.com, mari bersama simak pernyataan Rocky Gerung terkait fiksi. Ia mengatakan "fiksi itu merupakan sesuatu yang bisa meledakkan daya imajinasi otak terhadap masa depan". Kemudian pertanyaan yang muncul, apakah kitab suci itu fiksi? dan jawaban Rocky mengarah pada "iya".

Bila dicari leterasi tentang fiksi, misalnya dari Wikipedia. Menyebutkan bahwa "fiksi adalah cerita atau latar yang berasal dari imajinasi, dengan kata lain tidak secara ketat berdasarkan sejarah atau fakta". Perlu menggarisbawahi pada kata "Imajinasi", sebagai benang merah dari fiksi, bukan kata "fakta atau sejarah"

BacaNulis.Com akan menguraikan penjelasannya, bawah Fiksi tidak benar bila digandengkan dengan kata Fakta, yang benar jika Fiksi disandingkan dengan Realita dan Fakta disandingkan dengan Fiktif. So, misalnya; air hujan dapat menghilangkan stress, kalimat tersebut Fiktif, karena Faktanya tidak. Yang dapat menghilangkan stress bukan air hujannya, tapi suara yang dihasilkan dari hujan tersebut. Contoh lain, 2030 Indonesia bakalan bubar. Ini masuk kedalam Fiksi, sebab hal ini belum terjadi dan belum bisa dibenarkan atau disalahkan, namun imajinasi orang akan tergambar didalam pikirannya bagaimana jika memang benar terjadi atau tidak terjadi.

Kalimat "Kitab Suci Fiksi" memang tidak bisa dibantah bahwa itu merujuk kepada semua kitab agama. Agama manapun itu, terkena dengan kalimat tersebut. Namun, benarkah demikian?

Lihat pada benang merah kata Fiksi itu adalah Imajinasi. Sebagai gambarannya bila dilihat ke dalam kitab suci, misalnya kata surga atau neraka. Orang yang beragama meyakini bahwa surga atau neraka itu memang benar ada. Ini adalah fakta bagi penganutnya dan tidak bisa dibantah dan kitab suci juga membicarakan hal tersebut. Itu masih fiksi, karena belum terjadi. Akan tetapi imajinasi orang sudah sampai pada gambaran surga itu bagaimana dan juga neraka itu bagaimana. Pada titik inilah bahwa jelas fiksi bukan berita bohong (Fiktif), melainkan hal yang positif yang bisa digunakan orang untuk berimajinasi agar menemukan gambaran terhadap sesuatu yang belum menjadi Realita.

Nah jadi setidaknya ada 2 tujuan dari penggunaan fiksi menurut BacaNulis.Com:

#1. Menggambarkan sesuatu yang sudah ada/terjadi, tapi belum pernah dipikirkan.

Alqur'an diturunkan di negeri arab yang tandus dan kering. Kemudian ada ayat yang menceritakan sebuah negeri yang bernama "Saba", lalu diberikan tanda bahwa negeri itu ada 2 hutan disebelah kanan dan kirinya.

Bagi kaum yang mendengarkan ayat ini tentu harus mampu menggunakan pikirannya untuk berimajinasi bagaimana gambaran hutan itu, sementara mereka tidak pernah melihatnya. Inilah fiksi, yang mampu mendorong kepada daya imajinasi pikiran untuk melihat sesuatu yang bahkan belum pernah dilihatnya.

Kejadian lain misalnya, isra' mi'raj nabi. Bagi yang tidak beriman ini cerita fiktif, dan bagi yang beriman itu realita yang sudah terjadi dan benar terjadi. Namun bagi yang hidup saat ini, kejadian ini bisa digambarkan di dalam pikiran kita, bagaimana Rasulullah melaksanakannya dan itulah yang dinamakan Fiksi.

#2. Menggambarkan sesuatu yang belum ada/terjadi, tapi sudah dipikirkan.

Percaya bahwa bumi ini akan hancur pada saat terjadi kiamat. Namun, kiamat belum terjadi dan menjadi realita manusia. Akan tetapi, bisa diimajinasikan dengan pikiran bagaimana gambaran kiamat itu. Dan narasi kiamat ini ada dalam kitab suci, yang berarti bahwa Tuhan juga membuat sebuah Fiksi. Dengan kitab suci inilah imajinasi orang akan lebih mudah mencapai sebuah gambaran realita. Sehingga fiksi sangat diperlukan dengan dialegtika bahwa kitab suci yang menggambarkan sesuatu yang belum terjadi, tapi masuk ke dalam pikiran manusia. Ini bertujuan menyadarkan manusia tentang gambaran kebenaran yang hakiki.

Contoh yang lain, misalnya: Hujan emas. Sampai detik ini belum pernah ada hujan emas, namun tidak bisa juga dikatakan sebagai fiktif. Jika fiktif berarti ada berita yang mengabarkan ada terjadi hujan emas, namun faktanya tidak. Mungkin saja suatu saat hujan emas terjadi.

Baca juga: Tafsiran Aneh Bumi Datar Dari Beberapa Ijma' Ulama

Hujan emas apakah memang bisa terjadi atau tidak, yang jelas pikiran manusia bisa berimajinasi dan terlihat jelas gambaran hujan emas di dalam pikirannya, inilah fiksi.

Mudah-mudah dapat menjelaskan, namun tidak disalahkan jika ada yang mengkritik tulisan diatas.
Buka Komentar