Skip to main content

Sikap Nabi Ibrahim AS Terhadap Sebuah Penyakit

sikap nabi ibrahim as terhadap sebuah penyakit
BacaNulis.Com - Setiap orang selalu berharap sehat sepanjang hari, supaya dapat beraktivitas dan menikmati hidup. Banyak upaya yang dilakukan supaya tidak sakit dengan berbagai pola makan yang dikontrol, waktu tidur yang tepat dan juga berolah raga. Sangat bagus tentu selalu menghargai kesehatan dengan upaya menjaganya dengan baik. Akan tetapi, tidak ada juga yang bisa menjamin bahwa badan akan sehat terus. Pada saat sehat sering lupa dengan kesehatan, sehingga bekerja secara overload kemudian jatuh sakit. Tidak jarang orang sangat betul-betul menjaga sehatnya karena Ia tau sakit itu tidak enak. Sakit mengajarkannya untuk bersyukur atas kesehatan yang ada padanya.

Bagaimana menyikapi sakit ini? Beragam tentu sikap orang jika ia jatuh sakit. BacaNulis.Com sendiri sudah mendengar beberapa pendapat terkait dengan menyikapi sakit ini. Beberapa diantara adalah:
1. Menyakini semua takdir Allah SWT baik bagi semua manusia, tetapi manusianya saja yang tidak mampu memahaminya.
2. Meyakini bahwa dengan sakit maka akan bergugurlah semua dosa-dosa.
3. Sebagai sebuah ujian.
4. dst.

Pada bahasannya tersebut fokus pada poin pertama bahwa semua takdir, termasuk disini sakit berarti merupakan takdir Allah SWT. Sakit atau sehat itu merupakan pemberian Allah SWT. Memanglah betul semua merupakan kehendak ilahi. Tapi bagi BacaNulis.Com sesuatu yang buruk dinisbahkan kepada Allah sangatlah tidak etis. Jika semuanya sudah ditakdirkan, termasuk yang buruk atau dianggap buruk oleh manusia. Bisa di samakan juga berarti orang yang masuk neraka itu karena sudah takdirnya, bukan karena perbuatannya. Loh... Apa bedanya dengan sakit, itu karena takdir Allah untuk membuat Ia sakit atau karena perbuatannya membuat Ia menjadi sakit.

Nah, dari pada harus membuat pendapatan yang bisa membuat pro dan kontra. Disini akan disajikan sikap seorang Nabi Allah, Ibrahim AS terkait sikapnya terhadap sebuah penyakit.  Sebelumnya tentu sudah tahu bagaimana sosok Ibrahim AS ini, seorang yang punya akhlak mulia dan seorang yang teguh dalam mencari kebenaran dan memperjuangkan kebenaran tersebut. Dalam Alqur'an surat Asy Syu'araa' ayat 78-85;
78. (yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, 
79. dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, 80. dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku,
81. dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali),
82. dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat."

Dari ayat 78-82 simaklah terjemahan dan pahami sebuah sikap yang sangat santun ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim AS. Fokus terhadap sakit dan lihatlah pada ayat yang ke 80; "dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku". Bila dibandingkan dengan ayat 78, 79, 81, 82 jelas kalimatnya ditujukan ke pada Allah yang memliki peran utama. Yang menciptakan, yang menunjuki jalan kebenaran, yang memberi makan dan minun, yang mematikan, yang menghidupkan dan yang mengampuni kesalahan, Nabi Ibrahim AS menyatakan dengan jelas itu Allah SWT yang melakukan. Tapi lihatlah pada ayat ke 80, kalimatnya berbeda dengan yang lainnya. "Bila aku sakit", ini jelas bahwa Nabi Ibrahim AS, ingin menyatakan bahwa sakitnya itu karena perbuatan dirinya sendiri, bukan karena Allah SWT. Maka kalimat selanjutnya "Dialah yang menyembuhkan Aku. Karena merasa sakit itu perbuatan sendiri dan kemudian meminta kepada yang bisa menyembuhkan sakit itu. Ini sangat clear, bila saya ketemu dokter, lalu saya bilang; " dokter, sakit saya disebabkan oleh dokter, maka obatilah", kan aneh... Itulah kenapa kalimat pada ayat 80, itu berbeda. Jika disamakan dengan kalimat pada ayat lain seharunya "Dia yang memberiku sakit, maka sembuhkanlah aku".

Baca juga: Pengertian Sahabat Nabi, Saudara Nabi Dan Tabi'in

Ini menunjukkan sebuah sikap yang benar-benar mulia.  Nabi Ibrahim AS telah memperoleh pemahaman tingkat yang tinggi. Ia sadar bahwa sungguh naif sekali jika sebuah keburukan disandarkan kepada Allah SWT, padahal Allah SWT senantiasa menginginkan kebaikan-kabaikan kepada hambanya.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar