3 Cara Memberi Makanan Menurut Islam

3 Cara Memberi Makanan Menurut Islam

3 Cara Memberi Makanan Menurut Islam

cara memberi makanan menurut alqur'an
BacaNulis.Com - Sebagai seorang muslim tradisi memberi makanan kepada saudara, tetangga atau anak yatim, serta fakir miskin merupakan perkara yang rutin dilakukan. Saling berbagi menjadi bukti kepedulian sosial yang juga merupakan perintah Allah Swt. Banyak anak yatim dan fakir miskin yang membutuhkan makanan. Sangatlah etis jika mereka tidak memohon meminta makanan sebagai pengganjal perut mereka yang lapar. Sebagai seorang muslim tentu tahu hal tersebut, sehingga lebih baik antarkan makanan kepada mereka, sebelum mereka yang meminta.

Perkara memberi makanan ini juga sudah diatur di dalam Alqur'an. Tapi, tentu tidak semua tau tentang hal tersebut. Masih banyak orang yang salah terkait cara memberi makan menurut Islam. Terkadang niatnya hanya sekedar memberi makanan saja, untuk melepaskan rasa lapar orang lain. Padahal dalam memberi makanan ada sebuah peluang bagaimana Allah Swt menjanjikan pahala yang besar.

Untuk itu mari melihat landasan cara memberi makanan menurut Islam, yang mudah-mudahan dapat diamalkan dalam saat memberi makanan yang selanjutnya;

1. Memberi Makanan Yang Disukai

Cara memberi makanan yang pertama adalah dengan memperhatikan selera si pemberi makanan. Bukan makanan yang daripada tidak dimakan atau bahkan makanan sisa. Islam tidak mengajarkan memberi makanan yang seperti itu. Jika makanan yang diberikan merupakan makanan sisa atau makanan yang tidak disukai oleh si pemberi makanan, maka cara tersebut tidak sesuai dengan apa yang telah di ajarkan Alqur'an.

Terdapat dalam surat Al Insaan ayat 8:
Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.

Perintah dari ayat diatas, dalam memberi makanan haruslah yang disukai. Yang disukai oleh si pemberi makanan, bukan yang disukai oleh si penerima. Ini merupakan cara pemberian yang logis, sebab biasanya apa yang disukai oleh si pemberi makanan tentu juga akan disukai oleh si penerima (anak yatim, fakir miskin).

Yang menjadi pertanyaannya, apakah kita selama ini memberikan makanan yang disukai kepada orang lain? Jika belum, maka untuk pemberian selanjutnya bisa diperbaiki mengikut apa yang menjadi perintah dari Alqur'an.

2. Hanya Mengharapkan Ridho Allah Swt Semata

Memberikan makanan hendaklah diniatkan hanya kepada Allah Swt semata. Jangan ada embel-embel yang menyelubungi lubuk hati terhadap makanan yang diberikan. Lupakan saja apa yang sudah diberikan, walau harga makanan mahal sekalipun jangan diingat-ingat lagi. Ikhlaskan semuanya hanya mencari keridhoan Allah Swt saja.

Memberi dengan hanya mengharapkan ridho Allah Swt semata memang gampang diucapkan tapi sulit diimplementasikan. Terbukti banyak dijumpai di masyarakat yang memberi berharap sesuatu. Misalnya saja berharap disebut orang yang paling dermawan di kampung, dipilih berkenaan dengan menjadi caleg, ataupun setidaknya berharap di do'i-in oleh si penerima makanan tersebut.

Sekarang bandingkan saja, mana yang menjadi tempat berharap yang terbaik. Tentulah Allah Swt yang menjadi tempat terbaik untuk berharap. Oleh karenanya, ikuti cara yang sudah dituntunkan di dalam Alqur'an, maka tentu Allah Swt akan berkali-kali lipat memberikan balasan dari apa yang sedang diharapkan.

3. Tidak meminta balasan walau sekedar ucapan "Terima Kasih"

Di dalam  memberi makanan janganlah berharap apapun, walau sekedar ucapan terima kasih oleh si penerima makanan pun jangan. Ucapan terima kasih merupakan sesuatu hal yang wajar dan pantas bila diucapkan. Akan tetapi kata tersebut tidak boleh diminta, harus datang langsung tanpa disuruh dari si penerima makanan.

Dalam masyarakat, ini bisa menjadi sebuah polemik. Ketika ada saudara yang diberi makanan tidak mengucapkan kata terima kasih. Si pemberi makanan terkadang baper bahkan tersinggung dengan sikap tersebut. Di benak pikirannya "sudah dikasih makanan, bilang terima kasihpun, tidak!" Ngedumel di dalam diri, seolah-olah pemberiannya kurang dihargai. Padahal bisa jadi memang si penerima makanan punya sifat seperti itu, karena terlalu sering dia di beri makanan oleh orang lain, sehingga kata terima kasih sudah tidak bersuara lagi, hanya diucapkan di dalam hati. Dan bisa jadi juga, inilah tes bagi pemberi makanan. Dia ikhlas tidak untuk memberi makanan tersebut. Bila masih ngedumel di dalam diri, ini tandanya Ia masih berharap sesuatu.

Pada poin 2 dan 3, dasara ayat yang diambil yaitu Alqur'an surat Al Insaan ayat ke 9, yang terjemahannya sebagai berikut;
Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.

Baca juga: Cara Minum Sesuai Sunnah Yang Dilakukan Setiap Hari

Sangat penting memahami dan mengamalkan 2 ayat diatas, sehingga hati akan merasa tenang dan damai. Sesuatu pemberian yang hanya berharap kepada Alla Swt semata akan menghidupkan hati yang benar-benar jernih. Ayat ini juga membuka pemikiran bahwa 3 cara diatas merupakan cara yang terbaik. Si penerima akan sangat bahagia mendapatkan makanan yang terbaik, yaitu makanan yang disukai. Wajah berseri-seri akan terpancar dari si pemberi makanan, karena Ia berharap kepada Allah Swt semata. Dan tidak perlu adanya balasan apapun dari si penerima. Ini akan membuat si penerima merasa legah, tidak terbebani dari apa yang sudah Ia terima.
Buka Komentar