Do'a Dan Cara Berbuka Puasa Ramadhan Sesuai Sunnah

Do'a Dan Cara Berbuka Puasa Ramadhan Sesuai Sunnah

Do'a Dan Cara Berbuka Puasa Ramadhan Sesuai Sunnah

Do'a Dan Cara Berbuka Puasa Ramadhan Sesuai Sunnah
BacaNulis.Com - Menyambut datangnya bulan suci ramadhan dengan hati yang gembira, itulah yang di rasakan umat Islam di seluruh dunia. Banyak persiapan yang dilakukan misalnya, mempersiapkan keuangan dan juga mental. Keuangan itu digunakan untuk memperbanyak memberi, sebab pahalanya berkali lipat di bulan ramadhan. Begitu juga persiapan mental untuk menghadapi rasa lapar dan haus, tidak hanya itu saja, pengendalian diri terhadap nafsu dan sifat amarah perlu juga di latih.

Memperbanyak mengerjakan yang sunnah sebagai ajang memperbanyak pundi-pundi amal kebaikan, itu juga terjadi di bulan ramadhan. Tapi, dalam mengerjakan sunnah juga perlu diperhatikan ke-shahihannya. Jika mengikuti sunnah tanpa dasar yang benar, ini akan sia-sia saja dan malah akan menjerumuskan kepada dosa. Baca juga: Beberapa Manfaat Puasa di Bulan Ramadhan

Berikut ini akan di bahas sunnah yang bisa dikerjakan di bulan ramadhan, yang merupakan pekerjaan rutin saat berbuka puasa. Berbuka puasa memang aktivitas yang biasa dan ringan. Tapi terdapat sunnah kebaikan yang luar biasa disana.

Do'a Dan Cara Berbuka Puasa Ramadhan Sesuai Sunnah

Pada saat waktu berbuka telah tiba, langkah awal yang perlu dilakukan adalah mengambil segelas air putih dengan tangan kanan, kemudian membaca "Bismilllah atau Bismillahirrahmanirrahim". Bacaan basmalah merupakan do'a sebelum membatalkan puasa atau ketika hendak berbuka. Baca juga: Cara Minum Air Sesuai Sunnah Yang Dapat Dilakukan Setiap Hari

Setelah air ditelan atau setelah puasa dibatalkan, maka membaca do'a sebagai berikut:

ذَهَبَ الظَّمَأُ، وابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَاللهُ

“Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah.”

Terjemahannya: Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan, semoga ada pahala yang ditetapkan, jika Allah menghendaki (Hadits shahih, Riwayat Abu Daud [2/306, no. 2357] dan selainnya; lihat Shahih al-Jami’: 4/209, no. 4678) [7]

Do'a diatas merupakan do'a setelah berbuka puasa (setelah air ditelan) yang diriwayatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Periwayat hadits adalah Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma. Pada awal hadits terdapat redaksi, “Abdullah bin Umar berkata, ‘Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka puasa, beliau mengucapkan ….‘”

Jadi jelas, bahwa dibaca bukan sebelum makan atau minum ya!. Dan untuk yang menggunakan do'a sebelum berbuka selain basmalah, sudah diteliti bahwa do'a tersebut adalah dhoif. Misalnya yang sangat masyhur di kalangan masyarakat Indonesia dan sering diperdengarkan di stasiun televisi, yaitu:

Lafazh pertama:

اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْت


”Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka.”

Doa ini merupakan bagian dari hadits dengan redaksi lengkap sebagai berikut:

عَنْ مُعَاذِ بْنِ زُهْرَةَ، أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ كَانَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَ عَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

“Dari Mu’adz bin Zuhrah, sesungguhnya telah sampai riwayat kepadanya bahwa sesungguhnya jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka puasa, beliau membaca (doa), ‘Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthortu-ed’ (ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka).”

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Abu Daud, dan dinilai dhaif oleh Syekh al-Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud.

Penulis kitab Tahdzirul Khalan min Riwayatil Hadits hawla Ramadhan menuturkan, “(Hadits ini) diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunannya (2/316, no. 358). Abu Daud berkata, ‘Musaddad telah menyebutkan kepada kami, Hasyim telah menyebutkan kepada kami dari Hushain, dari Mu’adz bin Zuhrah, bahwasanya dia menyampaikan, ‘Sesungguhnya jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka puasa, beliau mengucapkan, ‘Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthartu."

Mua’dz ini tidaklah dianggap sebagai perawi yang tsiqah, kecuali oleh Ibnu Hibban yang telah menyebutkan tentangnya di dalam Ats-Tsiqat dan dalam At-Tabi’in min Ar-Rawah, sebagaimana al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Tahdzib at-Tahdzib (8/224).
Dan seperti kita tahu bersama bahwa Ibnu Hibban dikenal oleh para ulama sebagai orang yang mutasahil, yaitu bermudah-mudahan dalam menshohihkan hadits-ed.

Keterangan lainnya menyebutkan bahwa Mu’adz merupakan seorang tabi’in. Jadi, hadits ini mursal (di atas tabi’in terputus). Hadits mursal adalah hadits dho’if disebabkan sanadnya terputus. Syaikh Al Albani pun berpendapat bahwasanya hadits ini dho’if.

Hadits seperti ini juga dikeluarkan oleh Ath Thobroni dari Anas bin Malik. Akan tetapi sanadnya terdapat perawi dho’if yaitu Daud bin Az Zibriqon, dia merupakan seorang perawi matruk (yang dituduh berdusta). Berarti dari riwayat ini juga dho’if. Syaikh Al Albani pun menyebutkan riwayat ini dho’if. Di antara ulama yang mendho’ifkan hadits seperti ini yaitu: Ibnu Qoyyim Al Jauziyah.

Lafazh kedua:

اللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْت

“Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rizqika afthortu” (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku beriman, dan dengan rizki-Mu aku berbuka).”

Mulla ‘Ali Al Qori mengatakan, “Tambahan ‘wa bika aamantu‘ merupakan tambahan yang tidak diketahui sanadnya, kendatipun makna do’a tersebut shahih.”
Artinya do’a dengan lafazh kedua ini pun merupakan do’a yang dho’if sehingga amalan tidak dapat dibangun dengan do’a tersebut. Baca juga: AWAL TURUNNYA WAHYU. 17 ATAU 21 RAMADHAN?

Do'a yang masyhur tidak merupakan sebuah jaminan ke-shahihannya. Begitu lah yang sudah terjadi di kalangan masyarakat yang belum tau tentang derajat ke-shahihannya, namun sudah menjadi do'a yang rutin dibacakan. Walau dari sisi terjemahan do'a cukup baik, tapi jika terkait sebuah ibadah, maka tuntunannya tetap kepada Al-qur'an dan Rasul.

Bahan bacaan: https://muslimah.or.id/1050-doa-berbuka-puasa-yang-shahih.html
Buka Komentar