Skip to main content

Ujian Konsekuensi Dari Pernyataan Keimanan

Berdasarkan pernyataan Allah SWT di dalam Alqur'an Surat Al-'Ankabut ayat 2:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
Terjemahan: Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?
Ujian Konsekuensi Dari Pernyataan Keimanan

Ayat diatas menunjukkan bahwa ujian merupakan konsekuensi dari sebuah pernyataan keimanan. Tidak semerta-merta manusia dengan gampang mengucapkan atau mengklaim bahwa dirinya telah beriman, sementara pernyataan keimanan tersebut belum di uji. Dengan sebuah ujian, maka akan nampak apakah memang benar-benar beriman atau hanya sekedar di mulut saja!

Ujian terhadap keimanan tentu tergantung kepada setiap orang karena terkait dengan kadar keimanan di dalam dirinya. Sebagai seorang manusia yang beriman, harus bisa mengukur tingkat keimanan yang dimiliki. Jangan hanya menggembor-gemborkan secara lantang bahwa "saya beriman", namun dalam kenyataannya tidak sesuai terhadap yang ada di dalam hatinya.

Yang namanya sebuah ujian tentu sesuatu itu datangnya dari pihak luar. Terkait dengan ujian keimanan, tentu datangnya dari Allah SWT. Sama seperti ujian saat di sekolah, seorang siswa jika ingin mendapat predikat lulus, maka harus ikut ujian yang diberikan oleh pihak sekolah. Dengan ujian tersebut, barulah seorang siswa bisa dinyatakan lulus atau tidak. Begitu juga dengan keimanan, dengan sebuah ujian dari Allah SWT kepada hambanya yang menyatakan diri beriman, barulah bisa disebut beriman.

Ujian keimanan ini berlangsung selama manusia itu hidup. Tidak seperti ujian di sekolah-sekolah, yang punya jadwal tertentu dan waktu tertentu. Ujian keimanan ini bisa datang kapan saja dan dimana saja. Oleh sebab itu, hal yang terpenting adalah bagaimana selalu bersiap diri untuk menghadapi ujian itu setiap saat. 

Ada 2 hal yang mengarahkan manusia pada ujian keimanan

1. Ilmu yang dimiliki
2. Amal yang dilakukan

Keimanan itu tergantung pada ilmu dan amal. Semakin baik ilmu dan amalnya, niscaya keimanannya juga akan baik. Sebaliknya, bila ada orang yang tidak mau mengkaji sebuah ilmu, imannya dalam grafik yang datar dan lama-kelamaan akan menurun. 

Pada saat seseorang memperoleh ilmu, sebenarnya pada saat itu juga ujian keimanan mulai diberikan. Tidak heran Allah SWT memberikan ganjaran kebaikan yang amat banyak bagi orang-orang pengkaji ilmu. Misalnya saja, kajian bahwa Allah SWT menciptakan kehidupan akhirat yang terdapat syurga dan neraka. Iman itu langsung diuji, yakin atau tidak dengan adanya hari akhir atau masih dalam keadaan ragu-ragu. Sebuah tempat yang tidak bisa dilihat dan dirasakan saat sekarang ini, namun harus diuji untuk percaya terhadapnya.

Kajian lain yang terkait dengan amal, misalnya: di dalam Islam menganjurkan pada saat minum, lakukanlah dengan tangan kanan dan posisi duduk. Hal sesimpel ini bila tidak dibiasakan juga akan sulit dilakukan. Itulah ujian keimanan tersebut, mampu atau tidak melaksanakan perintah sunnah yang ada tersebut. Atau seseorang yang memiliki sebuah jabatan pemerintahan, mampu atau tidak imannya mengarahkannya untuk menghindari korupsi, jual beli jabatan, dan ketidakjujuran dalam menjalankan amanah negara.

Keimanan memang berlevel-level tingkatannya. Mulai dari yang standar sampai kepada yang high class. Berikut ini sebuah gambaran dari iman yang standar dengan yang high class:

Banyangkan saja Anda berada dalam sebuah hutan dalam perjalanan menuju sebuah kampung yang tidak diketahui seberapa jauh untuk sampai disana. Didalam perjalanan tersebut, Anda sudah merasa sangat lapar dan melihat seekor babi. Lalu apa yang Anda lakukan? Bunuh dan makan babi itu atau tidak? jika Anda menjawab makan babi itu, maka inilah level keimanan yang standar itu. Walau Islam memperbolehkannya karena dalam kondisi darurat. Mengapa? 1) Sebab level keimanan standarnya mengatakan makan babi itu, jika tidak Anda akan mati. Padahal iman yang high class berkata "hidup dan mati itu ditangan Allah SWT". 2) sebab level keimanan standarnya berkata" makanlah daging babi itu supaya kamu tetap bertahan hidup", padahal iman yang high class akan berpikir makan daging babi itu tidak menjamin masih hidup, bisa jadi daging yang dimakan itu membawa kepada kematian.

Jika diteruskan untuk menerangkan iman yang high class menjadi sebagai berikut: Pada saat berada di dalam hutan dengan kondiri sangat lapar, dan menemukan seekor babi. Perjalanan terus berlanjut dengan membawa sebuah keimanan yang seakan berkata di depan sana akan Allah ganti dengan yang lebih baik, bisa jadi seekor ayam hutan telah disediakan Allah sebagai hadiah dari iman yang high class tersebut.


Sebagai sebuah kesimpulannya bahwa sebuah ujian akan selalu datang menghampiri, bukan saja untuk menguji apakah beriman atau tidak! melainkan juga untuk menaikkan kelas dari level keimanan tersebut dan iman yang high class itu yang dimiliki oleh seseorang, salah satu tandanya adalah Ia selalu berhusnudzon (berbaik sangka kepada Allah SWT) dalam kondisi apapun.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar