Skip to main content

Khutbah Setelah Ramadhan: Tujuan Gelar Taqwa Sampai Indahnya Kematian

Mukadimah:

Marilah kita meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT, waktu yang masih diberikan ini, mudah-mudahan terus menjadi muhasabah bagi diri kita. Sehingga, saat kembali kepada Allah tetap menjaga fitrah sebagai seorang muslim.

Kemudian juga, marilah kita perbanyak sholawat kepada nabi Muhammad SAW, mudah-mudahan sholawat tersebut membawa kepada ke-istiqomahan dalam menjalankan perintah Rasulullah dan menjadi ladang kebaikan yang akan diperhitungkan dihadapan Allah SWT.

Jama’ah jum’at yang berbahagia

Bulan ramadhan, sudah kita lalui bersama, selama sebulan atau 30 hari Allah SWT melatih kita untuk menjadi orang/insan yang bertaqwa. Inilah sesungguhnya, inti dari ibadah shaum/puasa yaitu mendapatkan gelar taqwa dihadapan Allah SWT. Sebagaimana yang disebutkan di dalam Alqur’an surat Al Baqarah ayat 183:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”

Gelar taqwa yang diperoleh melalui aktivitas ibadah dibulan ramadhan, khususnya ibadah puasa merupakan harapan Allah SWT, agar tercapai oleh setiap orang yang melaksanakan ibadah puasa tersebut. Namun, tentu tidak semua orang mendapat gelar taqwa seusai berakhirnya bulan ramadhan ini. 

Jama’ah jum’at yang berbahagia

Salah satu Ciri yang sangat sederhana atau yang mudah, bisa dilihat ketika seseorang mendapatkan gelar taqwa setelah berakhirnya bulan ramadhan, yaitu:
  1. Pada bulan berikutnya, setelah bulan ramadhan yaitu bulan syawal dan bulan-bulan berikutnya, pelaksanaan amalan baik di ramadhan masih berkelanjutan. Misalnya, pada bulan ramadhan, dilatih agar mampu menahan marah, nah.. ketika di bulan lain, misalnya saja, pada bulan syawal ini. Maka ia juga mampu mengendalikan marahnya. Pada bulan ramadhan terlatih melaksanakan sholat subuh berjama’ah di mesjid, setelah berakhir ramadhan, maka kebiasaan baik tersebut tetap berlanjut. Ibadah puasa membawa dampak kebaikan, tidak lagi melakukan hal-hal buruk seperti yang dilakukan pada bulan sebelum-sebelumnya, kebiasaan tidak baik sudah mampu dihindari. Sehingga, pada bulan lain, akan nampak dari hasil latihan ibadah di bulan ramadhan, Inilah merupakan ciri yang mudah terlihat, seseorang yang mendapatkan gelar taqwa, bahwa segala amalan yang baik di bulan ramadhan tetap dilaksanakan pada bulan berikutnya.
  2. Bulan ramadhan menghasilkan ketaqwaan, yang ketaqwaan tersebut membuat seseorang, salah satunya, tidak takut terhadap kematian atau siap dalam menghadapi kematian. Ini sebuah perasaan, yang ada pada diri seseorang yang memperoleh gelar taqwa tersebut. Ia siap, kapan, dimanapun, Allah akan menjemput dirinya.

Allah mengatakan dalam surat Ali Imran ayat 102:
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

Memperoleh gelar taqwa, insya Allah, jika mati, maka matinya dalam keadaan islam. Inilah mengapa, gelar taqwa membuat perasaan menjadi tidak takut kepada kematian tersebut. Orang yang bertaqwa, hanya kepada Allah ia akan merasa takut, bukan takut pada kematiannya, melainkan takut terhadap amalan yang bukan diperintahkan oleh Allah, takut jika matinya, membawa banyak dosa ketimbang amal kebaikan.

Jama’ah jum’at yang berbahagia

Pandangan Allah SWT terhadap orang bertaqwa, berbeda sekali, ketika Allah memandang orang-orang yang ingkar, orang-orang yang kafir dan orang-orang yang kufur. Sebagaimana, jika kita memandang sebuah bongkahan batu emas dan disampaingnya ada sebuah bongkahan batu krikil. Tentu pandangan kita, akan tertuju pada batu emas tersebut, bukan pada batu krikilnya. Ada hasrat yang timbul, saat melihat batu emas tersebut, matapun menjadi silau dan keinginan yang menggebuh-gebuh untuk mendapatkannya. Jangankan, bongkahan batu emas disandingkan dengan bongkahan batu krikil, jika disandingkan dengan 1 truk batu krikil sekalipun, tentu, kita tetap akan memilih batu emasnya.

Jika kita saja, senang, lihat batu emas tersebut, maka akan jauh lebih senang, jika Allah melihat kita, sebagai orang yang bertaqwa. Yang nilainya bukan saja, hanya sebongkahan batu emas, malainkan nilainya, berpuluh-puluh, beribu-ribu, bahkan berjuta-juta bongkahan emas di mata Allah SWT. hadirin  Jama’ah jum’at yang berbahagia.
Menjadi orang yang bertaqwa itu, tidak ternilai oleh isi dunia, dihadapan Allah SWT.

Jama’ah jum’at yang berbahagia.

Mari kita bersama menelisik, kaitan taqwa dengan kematian yang dihadapi setiap manusia. Menjadi taqwa, akan membedakan perlakuan dari Allah terhadap orang yang bertaqwa tersebut. Salah satunya, adalah saat ajal menjemputnya. Secara umum,  bahwa yang namanya mati, rasanya sangat sakit. Siapapun manusianya, sudah menjadi takdir terhadapnya. Berkenaan dengan itu, ada hadist, yang rasulullah  mengatakan bahwa sakitnya mati, seperti ditusuk pedang 300 x (HR. Tirmidzi), ada riwayat lainnya, seperti kambing dikuliti hidup-hidup, ada juga seperti kawat berduri yang dimasukkan ke dalam mulut, kemudian ditarik, sehingga keluarlah usus-ususnya. 

Namun, ada juga rasulullah mengatakan mati itu mudah, seperti mencabut rambut dari adonan tepung. Jadi mana yang bener, seolah-oleh bertentangan, ada yang bilang, mati itu sakit dan ada yang bilang tidak sakit. 

Jama’ah jum’at yang berbahagia

Jawaban tersebut ada pada Alqur’an surat yusuf ayat 31:

Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf): "Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka." Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa) nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: "Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia."

Di ayat ini menunjukkan, jari-jari ter-iris pisau tanpa ada rasa sakit sedikitpun, karena melihat sesuatu yang cantik, sesuatu yang indah, yaitu sosok nabi yusuf AS. 

Nah, sebenarnya mati itu memang sangat sakit jama’ah sekalian, namum perlakukan Allah lah yang membedakannya. Bagi orang yang bertaqwa, saat mati. Allah akan menunjukkan gambaran syurga kepadanya, sehingga Ia melihat begitu indahnya syurga itu, begitu cantiknya syurga itu, belum pernah ia melihat hal tersebut saat berada di dunia. Sangking, takjubnya, ia pun tidak merasakan sakitnya saat mati, tidak merasakan seperti badannya ditusuk pedang. Gambaran syurga yang di tampakkan oleh Allah SWT, menjadi bius terhadap rasa sakit saat menjalani kematian. Itulah yang di alami bagi orang yang bertaqwa.

Berbeda dengan orang ingkar, saat matinya. Allah menggambarkan keadaan neraka yang begitu mengerihkan kepadanya. Sehingga, rasa sakitnya bertambah-tambah. 

Jama’ah jum’at yang berbahagia

Berupaya menjadikan diri sebagai orang bertaqwa, yang upaya tersebut sudah kita lalui pada bulan ramadhan yang lalu. Mudah-mudahan, gelar taqwa yang menjadi harapan Allah, untuk dapat kita raih bisa kita wujudka. Menjadi taqwa merupakan keberuntungan yang paling besar, yang tentunya juga dengan upaya-upaya dan perjuangan sesuai dengan jalan Allah dan rasulnya. 

Mumpung masih ada waktu, mumpung masih ada kesempatan, mari kita bersama menuju jalan taqwa. Yang pada akhirnya, hasilnya taqwa tersebut, akan dipetik dan dinikmati oleh dirinya. Alangkah meruginya orang-orang yang diberikan kehidupan, namun masih enggan berjalan diatas ketaqwaan atau berusaha menuju jalan ketaqwaan.

Faqtabiru ya ulil albab, la ‘allakun tuf lihun.

Mukadimah:

1. Demi masa
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian
3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

InnallaHa wamala-ikatoHu yushollu na’alannabii yaa aiiyuHalladzi na aamanuu shollu ‘alaiHi wasallamutaslimaa.

AllaHummaa sholli ‘alaa Muhammad wa ‘ala ali muhammad kama sholaita ‘ala ibroHim wa ala ali ibroHim, innaka hamidum mazid.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar