Skip to main content

Apakah Bunga Bank Sama Dengan Riba?, Simak Jawabannya Berikut Ini!

Apakah Bunga Bank Sama Dengan Riba?, Simak Jawabannya Berikut Ini!
Bahasan berkenaan bunga bank sama dengan riba, banyak kalangan ulama yang menyepakatinya. Tapi, beberapa ulama lainnya tidak setuju jika bunga bank disamakan dengan riba. Adanya pro dan kontra ini, pada akhirnya membingungkan sebagian umat, sehingga mereka terpecah menjadi pengakuan bahwa yang menghindari bunga bank termasuk sangat sunnah dan yang tetap bersinggungngan dengan bunga bank, maka termasuk kategori tidak sunnah dengan tingkat iman yang lemah. Ada yang berani meninggalkan pekerjaan yang bersinggungan dengan aktivitas bunga bank, seolah itu merupakan hijrah kebaikan yang luar biasa. Dan di pihak yang lain, masih bertahan karena takut kehilangan penghasilan.

Persoalan bunga bank sampai saat ini tidak menemukan titik terang. Mengapa demikian? Jawabannya sederhana, sebab yang kontra dengan bunga bank belum memberikan alternatif pilihan terbaiknya atau tidak mampu menciptakan sistem keuangan yang syar’i yang dapat menggantikan sistem keuangan yang menyimpang. Sehingga, tidak ada pilihan bagi orang-orang selain kembali berkecimpung dengan bunga bank, apalagi sebagian ulama lain memperbolehkannya.

Hal yang lain, mengapa soal bunga belum secara clear dapat diterima semua orang. Itu karena, bahasannya tidak pada fundamental permasalahannya. Ini seperti, ingin mematikan pohon bunga kertas. Tapi hanya dengan cara memetik bunganya saja, terus menerus bunganya dipetik dengan harapan supaya tiada, tapi malah pohon tersebut berbunga lagi, sebab pohonnya masih hidup. Harusnya, mematikannya dengan mencabut pohon bunga kertas seakar-akarnya atau mematikan akarnya, maka Ia tidak akan berbunga lagi, bukan sekedar hanya memotong bagian batang bunganya saja.

Nah, permasalahan bunga bank, bukan karena disamakan dengan riba, yang tentunya semua orang tahu bahwa riba itu dimurkai oleh Allah SWT. Masalah dasarnya dan yang harus dimengerti ada pada penggunaan uangnya. Jika yang dijadikan sebagai uang itu salah, tentu akan berimbas kepada yang lainnya, termasuk sistem bunga yang terjadi di perbankan. Contoh kecil saja, misalnya uang yang digunakan adalah emas, maka pasti tidak akan muncul istilah bunga. Sebab, emas itu ditambang, bukan dibungakan.

Jika bunga bank belum dipahami dengan baik, maka sebenarnya banyak perniagaan yang terjadi ternyata berbunga juga jika disalah artikan. Sebagai contohnya, bunga penjualan. Jika disama-samakan maka akan terjadi kesalahan. Pada saat seorang membeli barang (sepeda), dengan harga 1 juta. Kemudian, sepeda tersebut dijual kembali kepada pelanggan dengan harga 1,5 juta. Itukan yang 500 ribu bisa juga disebut bunga, yang tadinya hanya 1 juta, lalu berbunga, sehingga menjadi 1,5 juta. 

Untuk lebih memahami bunga bank, berikut ini pengertian sederhananya yang mudah-mudah dapat dimengerti. Bunga bank terdapat 2 suku kata, yaitu bunga dan bank. Bank merupakan sebuah tempat pengelolaan uang yang menjadi pihak ketiga dari para pemilik/nasabah. Objek yang dikelola bank adalah uang. Nah, bunga disini mengacu kepada uang, yang berarti menambah jumlah uang (new money generation). Adanya bunga bank menciptakan uang baru yang beredar, sehingga jumlah uang semakin banyak.

Ada bank A, mendapatkan simpanan dari nasabah A, sebesar 10 juta. Dengan adanya fractional reserve 10%, maka ada 9 juta yang bisa dikelolah oleh bank sebagai kredit dan lain-lain. Jika 9 juta tersebut, dibungakan sebesar 10%, maka akan ada uang baru (bunga) sebesar 900 ribu. 900 ribu tersebut akan beredar dan menambah jumlah uang yang ada. Yang pada awalnya uang yang ada sebesar 10 juta, dengan adanya bunga tersebut maka jumlahnya bertambah menjadi 10,9 juta.

Dengan pemahaman bunga bank ini, bisa diambil kesimpulan bahwa setiap bank konvensional mampu menciptakan uang, dengan sistem bunga yang ada. Bagaimana dengan jual beli? Toh, pada transaksinya ada penambahan harga. Ini berbeda, sebab dalam jual beli tidak menciptakan uang baru, tapi hanya sekedar menaikkan harga. Sehingga, dalam jual beli peredaran uang tetap dan tidak membuat bertambahnya uang yang berbeda, sebesar apapun keuntungan yang diambil dalam jual beli tersebut.

Untuk riba secara konkrit berbeda dengan bunga bank. Sebab, bunga merupakan sistem bagaimana terciptanya uang baru atau beredarnya uang. Tidak mungkin, jika alat transaksi yang digunakan terus tetap jumlahnya. Tentu akan ada sistem yang mengatur peredarannya, sehingga mencukupi jumlah transaksi yang semakin banyak. Mengesampingkan, apakah sistem itu buruk atau baik. Kendatipun bila alat transaksi yang digunakan adalah emas, tentu jumlah emas juga harus bertambah, untuk memenuhi jumlah penggunaan transaksi. Caranya misalnya dengan menambang emas, yang kemudian dicetak sesuai dengan kebutuhan.

Banyak yang mempermasalahkan sistem bunga, yang telah berdampak buruk kepada keadaan keuangan setiap negara. Tapi, juga jangan menyamakan bunga dengan riba. Sebab, keduanya hal yang berbeda, walau keduanya juga dianggap sangat buruk. Jika, bunga buruk, maka gantikan saja dengan sistem yang lebih baik.

Bila objek bunga adalah uang, yang menciptakan uang baru dengan adanya bunga tersebut. Nah, sebagai ribanya, ada pada penambahan nilai pada penggunaan uang tersebut. Misalnya contoh pada riba, yaitu bahan rupiah yang digunakan. Semua orang tahu, rupiah dicetak berbahan kertas. Lihat nilai yang berbeda-beda pada setiap kertas yang dicetak, padahal secara ukuran dan biaya operasional pembuatannya sama, ya jika ada beda, itu sangat sedikit sekali. Nominal yang tercantum dalam kertas tersebut, telah melejitkan nilai dasarnya sebagai kertas. Nilai intrinsiknya sebagai kertas, dengan memasukkan nominal yang besar, kertas itupun bisa bernilai sama dengan 1 karung beras. Waooo....!

Baca juga: Transaksi Riba pada Bank Syariah, Oleh Sihir Uang Kertas

Penambahan nilai yang terjadi pada kertas tersebut itulah sebuah riba. Mungkin jawaban ini, bisa melihat perspektif cara pandang terkait riba yang ada, yang selama ini sudah menjadi bagian yang melekat dalam kehidupan. Yang berbicara bunga bank, itu haram dan riba. Ternyata, kita sendiri masih menggunakan uang ribanya. Tidaklah mungkin, bisa membasmi bunga bank, jikalau akar masalahnya saja belum terselesaikan.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar