Skip to main content

Kritik Pandangan Keliru Ustadz Atau Ulama Tentang Mata Uang Kripto (CryptoCurrency)

Hukum mata uang kripto (cryptocurrency) diperbolehkan oleh banyak ulama, karena dianggap sama fungsinya dengan mata uang saat ini. Bahkan ada mesjid-mesjid yang menerima infaq/sedekah/zakat menggunakan mata uang kripto, contohnya bitcoin atau DDKoin. Ustadz atau ulama yang mengkaji secara mendalam tentang cryptocurrency memberi pandangan bahwa mata uang kripto bisa menjadi alternatif yang lebih baik. Penopang teknologi yang kuat bersifat desentralisasi membuat mata uang kripto sangat transparan, aman, cepat dan hemat biaya.

Tidak semua ustadz atau ulama yang setuju, mata uang kripto itu menjadi alternatif pengganti mata uang saat ini. Mata uang saat ini misalnya Rupiah, Ringgit atau Dollar akan tergantikan dengan mata uang kripto. Alasan yang rata-rata disampaikan karena mata uang kripto itu tidak ada wujudnya. Sehingga haram dijadikan sebagai uang, untuk simpanan ataupun transaksi.

Pandangan tentang cryptocurrency yang haram karena tidak ada wujudnya. Sebenarnya tidak fair atau tidak adil, sebab pada kenyataannya uang yang digunakan saat ini juga tidak ada wujudnya atau hanya sekitar 10% saja yang memiliki wujud. Para ustadz atau ulama harus lebih dahulu mengkaji hal tersebut. Jangan mengatakan mata uang kripto itu haram, sementara uang yang selama ini di pegang dan dipergunakan, ternyata juga sama, sebagai uang yang tidak memiliki wujud.

Mari menelisik data dan kenyataan yang terjadi pada peredaran uang. Sebagai contoh peredaran uang rupiah. Jenis rupiah yang beredar diistilahkan menjadi M1, M2, M3, dan M4 (M0-M3). Dilansir dari bi.go.id, M1 merupakan uang kartal yang dipegang oleh masyarakat, yang diterbitkan oleh bank central. Uang kartal dapat berwujud kertas maunpun logam, uang yang memiliki wujud. Sedang M2 merupakan M1 yang sudah tidak memiliki wujud yang digantikan dengan digit-digit komputer (tabungan, simpanan berjangka, valas, ataupun surat berharga). M2 tetap diakui sebagai uang yang syah dan dapat ditransaksikan.

Berikut sebagian data peredaran uang yang BacaNulis kutip dari kemendag.go.id, cek dibawah ini:
jumlah uang beredar (m1 dan m2)

Coba perhatikan data ditahun terakhir (Juni 2019), M1= 1,5 trilun dan M2= 5,9 triliun. Itu dapat diartikan bahwa uang yang memiliki wujud baik yang berbahan kertas atau logam berjumlah 1,5 triliun, sedangkan uang yang berbentuk digit-digit komputer atau catatan sebanyak 5,9 triliun. Belum lagi jika di data M3 dan M4, tentu akan tergambar peredaran uang yang banyak sekali, namun bukan dalam bentuk kertas maupun logam.

Nah, bagaimana perkara uang rupiah yang dalam bentuk digit komputer (tanpa wujud) yang dikatakan ustadz atau ulama? Bagaimana hukumnya, penggunaan uang  tersebut?. Cek dan perhatikan ulang, uang dalam bentuk digit-digit komputer jauh lebih banyak dari uang aslinya (dicetak dan berwujud). Artinya, penggunaan uang tersebut paling banyak dipergunakan oleh masyarakat.

Apakah ustadz atau ulama yang juga sudah pasti berkecimpung di rekening bank, walapun itu syari’ah sekalipun, dalam menggunakan ATM, jual beli online, dan lain sebagainya, harus merubah definisi atau tafsir tentang, seperti apakah yang dimaksud uang berwujud itu?

Yang mengaku dirinya ustadz atau ulama seharusnya lebih bijak, ketika memberikan tanggapan pada sebuah sistem keuangan yang baru, misalnya cryptocurrency. Sebab, seharusnya perlu melakukan pengkajian yang mendalam terlebih dahulu, sebelum memunculkan pendapatkan di publik.

Baca juga: Berkembangnya CryptoCurrency (Digital Aset), Akankah Membuat Sistem Perbankan Punah?

Cryptocurrency sebagai mata uang baru, seharusnya menjadi santapan bagi para ustadz dan ulama. Sehingga, baik buruknya dapat ditinjau secara cermat dan bijak. Dan tidak ada salahnya, membandingkan sistem yang sudah ada. Kenapa tidak menjadi alternatif, bila memang memiliki fadilah bagi kemaslahatan ummat.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar