Skip to main content

Perlombaan 17an Yang Vulgar Dan Tidak Mendidik Bagi Anak-Anak

Setiap merayakan hari kemerdekaan 17 Agustus-an, beragam perlombaan banyak dilombakan. Mulai dari pelosok daerah sampai perkotaan, masing-masing tempat memiliki cara yang berbeda-beda dalam mempersiapkan kemeriahan HUT RI ini. Namun, ada perlombaan yang secara umum sama di berbagai daerah, misalnya panjat pinang, balap karung, dan makan kerupuk. Terkadang bahkan perlombaan tersebut di modif, sehingga nampak berbeda dengan yang lainnya. Namanya saja lomba panjat pinang, tapi dibuat miring pinangnya dan diarahkan ke sungai, ada lagi lomba makan kerupuk yang talinya ditarik naik turun, dan lomba-lomba lainnya yang sudah umum yang terkena modifan supaya lebih lucu, menarik perhatian, tidak membosankan dan kreatif.

Dalam pengadaan lomba 17an, boleh-boleh saja untuk kreatif dengan membuat lomba baru atau memodifikasi lomba-lomba yang lama. Asalkan jangan kelewat batas yang bisa mencederai kawan sepermainan, penyiksaan terhadap hewan atau lomba-lomba yang terlihat vulgar. Setiap lomba perlu disaring kembali dan perlu ada sebuah batasan agar tidak melanggar budaya adat dan agama.

Bila perlu, perlombaan yang diadakan dalam memeriahkan HUT RI memberikan sebuah pelajaran yang baik dan mendidik bagi penonton dan pemainnya, tidak sekedar jadi lucu-lucuan saja. Adakalanya lomba yang ditampilkan untuk lucu-lucuan banyak mengorbankan atau menjadi hinaan bagi para peserta pemeriah 17an. Kepala yang menjadi lambang kebesaran seseorangpun, pada saat lomba tertentu bisa diinjak-injak, yang hal itu tentu sadar atau tidak disadari merupakan sebuah keremehan yang dibalut dalam perlombaan dan juga untuk membuat penontonnya tertawa terbahak-bahak. Ini kurang apik dan mendidik, walau banyak persepsi terkait hal tersebut yang menanggapinya secara biasa-biasa saja.

Tentu banyak cara dalam menyambut kemeriahan HUT RI. Walau memang tidak meriah rasanya, jika tidak ada perlombaan yang diadakan dan tidak menarik rasanya, jika lombanya tidak lucu. Lomba-lomba yang lucu akan menarik banyak perhatian orang yang melihatnya. Jika kelucuan dari perlombaan tersebut tidak kelewatan batas, tidak vulgar, atapun penganiayaan tentu sah-sah saja.Tapi perlu diingat! yang lucu tidak harus menghinakan, yang menarik tidak perlu menganiaya dan yang baru bukan yang vulgar.

Dibanyak lomba-lomba yang diadakan didaerah-daerah oleh masyarakat. Tim BacaNulis.Com, telah melihat ada lomba yang bersifat vulgar dan juga tidak mendidik, apalagi bila dipertontonkan untuk anak-anak. Apa saja itu? Berikut ini perlombaan 17an yang vulgar dan tidak mendidik bagi anak-anak:

1. Lomba Memindahkan Terong
Lomba Memindahkan Terong

Lomba ini merupakan lomba yang baru, yaitu di dominasi kaum ibu-ibu yang berlomba siapa cepat dalam memindahkan terong lewat jepitan selangkangannya. Peserta setiap tim tergantung pada kesepakatan diawal permainan, bisa terdiri dari 4, 5, 6, 7 orang atau lebih. Perlombaan tersebut viral dan sangat lucu bila ditonton. Namun, lomba tersebut membawa pesan vulgar.

Orang yang melihatnya dapat melakukan tafsir terhadap lomba tersebut dan tentu membawa arah pikiran yang tidak baik bagi yang menontonnya. Cukup, dihentikan saja lomba seperti itu dan tidak perlu diadakan pada acara 17an nanti.

Bagi anak-anak, lomba tersebut menjadi pengajaran bagi mereka, jika dari kecil sudah dipertontonkan hal-hal yang vulgar, maka otak berpikirnya akan mengarahkan ke hal-hal yang vulgar juga.

2. Lomba Menyusui Bapak-Bapak
Lomba Menyusui Bapak-Bapak

Lomba menyusui ini di pesertai oleh pasangan suami istri. Sang istri yang pegang botol susunya dan suaminya berperan sebagai bayi. Ada dua kesan yang ditampilkan dalam lomba ini, pertama sangat lucu dan yang kedua sangat menjijikkan.

Lucu sekali sudah bapak-bapak tapi kelakuan seperti bayi yang kemudian disusui. Dan lihat sisi lainnya, sudah bapak-bapak yang berkumis tapi menyusui seperti bayi, itu sangat jijik sekali dilihat bahkan memicu keinginan mau muntah melihat kelakukan yang ditampilkan, walau dibungkus dalam sebuah perlombaan.

Jika ditanya, tujuan lomba ini untuk apa?. apa sekedar lucu-lucuan saja yang dampaknya buruk bagi generasi muda atau ada hal lainnya yang bersifat positif. Tim BacaNulis tidak melihat itu, kecuali sekedar lucu-lucuan atau supaya viral saja.

3. Lomba Memindahkan Belut
Lomba Memindahkan Belut

Lomba memindahkan belut dari ember satu ke ember lainnya sangat digemari oleh anak-anak dan juga remaja, bahkan menjadi perlombaan juga bagi kaum tuanya. Perlombaan ini terlihat menarik dan melatih pengalaman menagkap belut, kemudian membawanya ke wadah yang lainnya. Sambil berlari-lari dan bagi yang cepat mengumpulkan belut ke ember tujuan, akan menjadi pemenangnya.

Bagi anak-anak, lomba ini asyik-asyik saja. Mereka belum berpikir secara mendalam hubungannya terhadap hewan. Hewan apapun itu, termasuk belut yang telah menjadi korban dalam sebuah permainan. Permainan ini secara perlahan telah menghancurkan perasaan anak-anak terhadap hewan. Mereka merasa bahagia dan senang pada dasarnya bukan karena belutnya. Tapi karena mereka sedang bermain. Bermain adalah kesenangan dan kebahagiannya bagi anak-anak. Jadi, tidak perlu lomba yang mempermaikan hewan dan lomba yang merusak perasaan.

Bagaimana tidak tersiksanya seekor belut yang dipegang terus-terusan, dengan tangan-tangan yang menggenggamnya sangat erat. Lihat, pada tangan ke 10 si belut sudah lemas dan mudah untuk dipegang dan dibawa. Si belut tersiksa tapi tidak cepat mati, ini akibat terjebak dalam sebuah permainan manusia yang secara perlahan juga telah merusak hubungannya dengan sibelut tersebut.

Permainan ini merusak belas kasih terhadap hewan yang biasa dipunyai oleh anak-anak. Permainan ini telah mengajarkan bagi anak-anak membuat kesenangan boleh dilakukan, walau dengan cara menyiksan hewan sekalipun. Ini sangat bertentangan terhadap yang seharusnya bertumbuh di dalam jiwa seorang anak misalnya, penyayang terhadap hewan, peduli dan berlaku bijak, serta berakhlak terhadapnya.

Baca juga: Contoh Acara Lomba 17 Agustus yang Meriah Murah

Masih banyak contoh-contoh lomba yang tidak baik dijadikan sebagai kemeriahan acara 17an. Ingat!, dalam sejarah disebutkan bahwa meraih kemerdekaan ini penuh perjuangan yang tidak sedikit darah telah ditumpahkan dan harta yang sudah dihabiskan. Sehingga, jangan menjadi promotor perayaan HUT RI, dengan mengadakan lomba untuk sekedar lucu-lucuan saja, tapi buat atau modifikasi lomba-lomba yang memiliki bobot nilai perjuangan, kesabaran, keihklasan, kesetiaan, dan kasih sayang 
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar