Skip to main content

Inilah Hukum Kotoran Kucing atau Air Kencing Kucing

Kucing hewan imut, menggemaskan, penghilang stress, dan merupakan hewan peliharaan banyak orang. Tidak jarang setiap rumah ditemukan kucing sebagai hewan rumahan. Bahkan ada orang yang juga hobi memelihara kucing. Selain dari hobi, ada pula orang beralasan untuk mencari pahala dengan memeliharanya.
Inilah Hukum Kotoran Kucing atau Air Kencing Kucing

Kucing hewan yang cukup pintar dan mudah untuk dilatih. Jika sejak kecil kucing dilatih agar tidak buang kotoran atau kencing di rumah, maka Ia pun jika sudah ke belet langsung pergi keluar rumah untuk buang kotoran. Hal lain yang unik juga terjadi pada kucing yang terlatih sejak kecil tidak mau nyolong. Sampai besar Ia tidak mau makan ikan yang bukan miliknya, yang tidak diberikan oleh majikannya. 

Selain dari hobi, cari pahala, kasihan, dan lain sebagainya yang menjadi motif memelihara kucing, kucing juga bisa bersih-bersih rumah dari hewan najis, misalnya tikus, cicak, bahkan ularpun akan dilawannya jika masuk rumah. 

Ngomongin tentang kucing, tahu gak hukum dari kotoran atau kencing kucing?. Berikut penjelasannya;

Yang perlu digarisbawahi bahwa tidak ada hadist yang menyebutkan kotoran maupun kencing kucing itu suci. Artinya bahwa kotoran ataupun kencing kucing itu najis. Atau dalam kata lain, jika belum ada pengetahuan yang ditemukan benar-benar menjelaskan kotoran atau pipis kucing itu suci, maka tidak dibenarkan meyakini kotoran dan pipis kucing itu suci.

Berdasarkan beberapa hadist yang menyebutkan salah satu bagian kucing yang suci itu adalah air liurnya, bukan kotoran atau kencingnya. Ini juga yang membedakan liur kucing dengan anjing, bahwa kucing hewan rumahan yang layak dipelihara. Simak tentang hadist air liur kucing;

Dari Abu Qotadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إِنَّهَا مِنَ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ وَالطَّوَّافَاتِ

Kucing itu tidaklah najis. Sesungguhnya kucing merupakan hewan yang sering kita jumpai dan berada di sekeliling kita. ” (HR. Abu Daud no. 75, Tirmidzi no. 92, An Nasai no. 68, dan Ibnu Majah no. 367. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Diriwayatkan oleh Abu Daud, seorang yang bernama Kabsyah binti Ka'ab bin Malik (istri dari anak Abu Qotadah / Menantu). Kabsyah pernah menuangkan air wudhu kepada Abu Qotadah. Kemudian datang seorang kucing, Abu Qotadah memiringkan bejana berisi air wudhu tersebut untuk diminungkan kepada kucing tersebut. Lalu Kabsyah merasa heran terlihat oleh Abu Qotadah. Abu Qotadah pun mengatakan kepada menantunya "Apakah engkau heran dengan yang ku lakukan?', menantunya menjawab "iya". Lantas Abu Qotadah membacakan hadist di atas.

Hadist tersebut secara terang menyebutkan kucing sebagai hewan suci atau tidak najis. Bahkan Rasul sampai memberitakukan 'illah (sebabnya), mengapa kucing tidak najis. Karena kucing, hewan yang suka mondar-mandir di sekeliling manusia dan keluar masuk rumah.

Akan tetapi kucing yang tidak najis, bukan berarti halal untuk dimakan. Hal ini berdasarkan hadits dari Abi Tsa’labah, beliau berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – نَهَى عَنْ أَكْلِ كُلِّ ذِى نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang memakan setiap hewan buas yang bertaring.” (HR. Bukhari no. 5530 dan Muslim no. 1932). Yang dimaksud “dzi naabin minas sibaa’ ” adalah setiap hewan yang memiliki taring dan taringnya digunakan untuk menerkam mangsanya. Kucing termasuk di dalamnya. Jadi, kucing itu keluar dari kaedah para ulama,

إِنَّ جَمِيْعَ مُحَرَّمِ الأَكْلِ مِنَ الحَيْوَانِ نَجِسٌ

Setiap hewan yang haram dimakan, dihukumi najis.” Kucing dikecualikan karena adanya dalil yang mengecualikan. Namun sebenarnya kaedah tersebut tidak berlaku secara mutlak.

Baca juga: Macam Macam Najis Beserta Contohnya Dan Cara Membersihkan Najis Tersebut

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah menerangkan, “Kucing tidaklah najis. Namun apakah berlaku secara umum? Jawabnya, tidak. Yang tidak najis adalah air liur, sesuatu yang keluar dari hidungnya, keringat, jilatan atau bekas makan dan minumnya. Adapun untuk kencing dan kotoran kucing tetaplah najis. Begitu pula darah kucing juga najis. Karena setiap hewan yang haram dimakan, maka kencing dan kotorannya dihukumi najis. Kaedahnya, segala sesuatu yang keluar dari dalam tubuh hewan yang haram dimakan dihukumi haram. Contohnya adalah kencing, kotoran, dan muntahan.” (Fathu Dzil Jalali wal Ikram, 1: 110).

Sumber: https://rumaysho.com/8751-apakah-kotoran-kucing-itu-najis.html
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar