6 Kesalahan Setelah Sholat Secara Umum yang Dikerjakan tidak Sesuai Tuntunan

Dalam mengerjakan amalan ibadah haruslah dengan ikhlas. Ikhlas itu menjadi bagian dari diterimanya amalan ibadah yang dikerjakan. Namun, perkara ikhlas adalah sesuatu yang tidak tampak, sehingga yang lebih tahu hanyalah Allah SWT dan hamba yang mengerjakan amalan ibadah tersebut. 
6 Kesalahan Setelah Sholat Secara Umum yang Dikerjakan tidak Sesuai Tuntunan

Kemudian dalam mengerjakan amalan harus juga dikerjakan sesuai dengan tuntunan. Rumusnya “semua ibadah itu haram kecuali yang dihalalkan”, artinya dalam mengerjakan amalan ibadah wajib mengikuti petunjuk Allah SWT dan Rasulnya. Dan tidak diperkenankan mengerjakan hal lain diluar tuntunan, walaupun hal tersebut dianggap baik.

Pada bahasan kali ini, fokus pada ibadah sholat yaitu terkait tuntunan yang harus dikerjakan seusai sholat. Sudah ada petunjuk baku yang telah dicontohkan oleh Rasul, apa yang harus dilakukan setelah mengerjakan sholat. Memang ada berbagai variasi yang boleh dipilih dan dilakukan, namun jangan sampai mengerjakan diluar dari versi tersebut.

Berikut ini, 6 kesalahan setelah sholat secara umum yang dikerjakan tidak sesuai tuntunan;

1. Mengusap Wajah Setelah Sholat atau Berdo’a

Mengusap wajah setelah sholat atau berdo’a bukan merupakan tuntunan yang masuk dalam ibadah seusai sholat. Jadi, jika mengusap wajah dianggap sebagai ibadah yang wajib dikerjakan, maka hal itu merupakan kesalahan. Oleh karena itu, dilarang mengusap wajah jika niatnya untuk mengerjakan amalan ibadah. Tapi, jika mengusap wajah karena faktor refleks saja dan tidak ada anggapan bahwa hal tersebut bagian dari suatu ibadah, maka hal tersebut boleh-boleh saja.

2. Berdo’a dan Berdzikir dengan Suara Keras dan Dikerjakan Beramai-Ramai (Bareng-Bareng)

Allah SWT memerintahkan untuk memperbanyak berdzikir dan menganjurkan untuk berdo’a. Dalam berdzikir, caranya telah Allah SWT beritahu, yang misalnya termaktup dalam Alqur’an Surat Al ‘Araf ayat 55 dan 205. Yang ayat tersebut menegaskan agar berdzikir tidak dengan mengeraskan suara. Kemudian, tidak juga dikerjakan secara beramai-ramai, yang biasa dikomandoi.

Selain itu juga, berdzikir dan berdo’a yang dikerjakan beramai-ramai menghilangkan fokus untuk tertuju kepada Allah SWT. Ada komando dalam berdzikir, tentu membuat tidak tenang. Berdzikir harus dikebut (diperccepat) untuk bisa mengikuti dengan bacaan jama’ah yang lainnya. Jika tidak seirama, maka akan tertinggal bacaan dzikirnya.

Dalam hal berdo’a juga, setiap hamba tentu punya sesuatu yang ingin dimunajadkan kepada Allah SWT secara khusus untuk pribadinya, keluarga, atau yang lainnya. Jika do’a sudah dikomandoi, maka harus ikut keinginan komandonya. Oleh karena itu, sebenarnya berdo’a adalah sesuatu yang lebih bersifat kondisional saja. Setiap orang boleh kapan saja berdo’a sesuai dengan niatannya dan tidak harus menghapal do’a khusus. Yang ada itu, waktu dan tempat khusus dalam berdo’a yang mustajab.

3. Berdzikir dengan Bacaan yang tidak ada Dalilnya

Setelah sholat banyak bacaan dzikir yang sudah ada tuntunannya. Sehingga tidak diperbolehkan membaca selain dari bacaan dzikir yang sudah ada tuntunannya tersebut. Boleh saja, berdzikir dengan bacaan yang dipilih-pilih. Atau mengerjakan dzikir yang utama (paling umum) saja. Tapi, jangan ada penambahan-penambahan dzikir diluar tuntunan, walau dianggap baik.

Contoh bacaan dzikir yang tidak ada tuntunannya membaca surat Al Fatihah. Mungkin membaca surat Al Fatihah dianggap baik, tapi karena tidak ada dalil sahih yang membenarkannya, maka tetap tidak boleh dikerjakan. Nah, untuk menggantinya baca saja surat lain yang sudah jelas ada tuntunannya, misalnya Ayat Kursi, Surat An-nas, atau lainnya.

4. Menghitung Dzikir dengan Biji-Bijian/Batu/Tasbih

Anjuran untuk menghitung dzikir adalah dengan menggunakan tangan kanan. Hal tersebut supaya tangan tersebut menjadi saksi perbuatan baik dan tangan itu akan bercahaya di akhirat nanti. Berkenaan menggunakan biji-bijian tidak ada tuntunannya, bahkan menggunakan tasbih dalam berdzikir menyerupai apa yang dipakai oleh agama lain.

5. Merutinkan Do’a

Yang dimaksud merutinkan do’a di sini adalah membaca do’a tertentu yang wajib dibaca setelah sholat. Seolah-olah tidak merasa legah, tidak srek, atau tidak puas rasanya jika do’a tersebut tidak dibaca.

Baca juga: Doa Setelah Sholat Tahajud Agar Cepat Dikabulkan Oleh Allah Swt

6. Saling Berjabat Tangan

Ada kebiasaan di beberapa jama’ah masjid yang mengharuskan saling berjabat tangan seusai sholat. Padahal itu tidak ada tuntunan dari Rasul untuk saling berjabat tangan setelah sholat. Yang parahnya lagi, bila berjabat tangan tersebut dianggap bagian yang wajib dikerjakan dan masuk dalam bagian amalan setelah sholat.

Berjabat tangan sangat dianjurkan dalam Islam. Tapi bukan untuk kewajiban yang harus dikerjakan setelah sholat. Mungkin salah satu jama’ah seorang perantauan yang lama tak jumpa, bisa langsung dihampiri untuk berjabat tangan. Nah, itu diluar konteks setelah sholat atau dalam konteks yang dibenarkan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel