Dalil yang Memperbolehkan dan Melarang Mengikuti Merayakan Tahun Baru untuk Umat Islam

Dalil yang Memperbolehkan dan Melarang Mengikuti Merayakan Tahun Baru untuk Umat Islam
Berkaitan dengan merayakan tahun baru untuk umat islam memang tidak ada dalil, baik dari Alqur'an maupun Hadist yang secara gamblang melarang atau memperbolehkannya. Karena, memang di jaman nabi atau sahabat tidak pernah ada orang yang melakukannya. Makanya, tidak ada secara jelas hadist yang memperbolehkan atau melarang mengikuti merayakan tahun baru untuk umat islam. Mungkin, jika merayakan tahun baru ada dilakukan orang pada masa nabi, tentulah ada hadist yang secara gamblang membahasnya.

Tapi dengan dalil, baik Alqur'an maupun hadist, bisa dikiaskan dengan persoalan mengikuti merayakan tahun baru, apakah boleh atau tidaknya merayakan tahun baru. Dengan begitu, perlu ada ijtihad. Ijtihad adalah usaha maksimal yang dilakukan oleh pakar (Alqur'an, Hadist, dan ilmu-ilmu lainnya) untuk memutuskan sesuatu perkara yang tidak secara jelas diterangkan di dalam Alqur'an maupun Hadist dengan menggunakan akal dan pertimbangan-pertimbangan yang matang.

Dengan adanya ijtihad tersebut, terhadap mengikuti marayakan tahun baru untuk umat Islam, dibagi menjadi 2, yaitu;

1. Dalil yang melarang mengikuti merayakan tahun baru untuk umat islam, contohnya:

من تشبه بقوم فهو منهم

“Siapa yang meniru kebiasaan satu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut.” (Hadis shahih riwayat Abu Daud)
Jika ditelisik dasar merayakan tahun baru bukanlah dari Islam. Kebiasaan tersebut merupakan kebiasaan pesta dengan berhura-hura yang diwariskan orang terdahulu. Orang terdahulu, seperti orang-orang Romawi sangat gemar mengadakan pesta, termasuk dalam acara-acara pergantian tahun. Bahkan, dalam mengadakan pesta tersebut, terdapat unsur keyakinan terkait ibadah yang dipersembahkan kepada dewa. Misalnya, dewa Janus, The God of Gates, Doors, and Beeginnings. Ia seorang dewa yang punya dua wajah, satu wajah menatap ke depan dan satunya lagi menatap ke belakang, sebagai filosofi masa depan dan masa lalu, layaknya momen pergantian tahun. (G Capdeville “Les épithetes cultuels de Janus” inMélanges de l’école française de Rome (Antiquité), hal. 399-400).

Jadi yang pasti, pesta atau mengikuti merayakan tahun baru bukan dari islam atau budaya para nabi dan sahabat. Dan juga sudah jelas diterangkan bahwa, untuk umat islam dilarang mengikuti kebiasaan orang yang tidak baik atau kebiasaan tersebut mengandung unsur-unsur yang bertentangan dengan syara'. Jika ada orang yang mengikutinya, Rasul mengatakan bahwa dia termasuk golongan mereka. Yang berarti bahwa, orang yang mengikuti merayakan tahun baru tidak termasuk umat nabi.

2. Dalil yang memperbolehkan mengikuti merayakan tahun baru untuk umat islam, contohnya:

Pada sejarah pelaksanaan puasa Asyura, yang pada awalnya merupakan tradisi dari orang Yahudi. Dan puasa tersebut dilakukan dan dibiasakan oleh nabi Muhammad saw. Hal tersebut adalah sesuatu kebiasaan umat lain yang dilaksanakan juga oleh umat islam.

Jika begitu, mengikuti merayakan tahun baru boleh-boleh saja. Asal tidak bertentangan dengan Alqur'an dan sunnah. Tidak bertentangan dengan Alqur'an dan Hadist itulah kuncinya.

Ulama yang membahas tentang boleh tidaknya mengikuti merayakan tahun baru memang berbeda pendapat. Ada yang langsung tegas mengaharamkan mengikuti merayakan tahun baru dan ada yang memperbolehkan, dengan syarat dan ketentuan.

Bila melihat dengan mata terbuka acara-acara dalam tahun baru. Disana banyak terjadi kemaksiatan, hiburan-hiburan yang mengundang syahwat, berkerumannya pria dan wanita yang bukan mahramnya. Sudah jelas-jelas banyak kemaksiatan di sana sini yang ditimbulkan dari mengikuti merayakan tahun baru. Sehingga, banyak hal yang bertentangan dengan Alqur'an maupun Hadist bila dikaji.

Sebagai kesimpulan berkenaan mengikuti merayakan tahun baru untuk umat islam dengan dalil sudah terang bahwa itu dilarang. Jadi yang menyatakan diri sebagai umat islam, sebaiknya tidak mengikuti merayakan tahun baru. Tapi, bila masih ngeyel juga, lebih baik membuat acara yang bermanfaat. Menimbangkan dalam rangkah dakwah supaya generasi islam tidak keluyuran untuk merayakan tahun baru.

Baca juga: Hukum Dalam Islam; Ucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru

Sumber baca: https://konsultasisyariah.com/9614-hukum-merayakan-tahun-baru.html

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel