Skip to main content

Hukum Dalam Islam; Ucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru

Dalam kehidupan yang beragam, termasuk perbedaan-perbedaan agama atau keyakinan harus dijalin dengan toleransi dan keadilan. Toleransi dalam keragaman memiliki arti tidak boleh melarang orang lain menjalankan ibadah keagamaannya. Apapun bentuknya, jika ada motif untuk menggangu peridabatan agama lain, hal tersebut termasuk ke dalam in-tolerasansi. Dan itu tidak dibenarkan dalam undang-undang negara, termasuk dalam ajaran Islam. Ajaran Islam diharamkan memaksa kehendak keyakinan orang lain, tapi dianjurkan untuk berdakwah. Mau diikuti atau tidak seruan dakwah tersebut tidak ada soal, yang penting dakwahnya telah sampai.
Hukum Dalam Islam; Ucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru

Islam telah mengajarkan toleransi umat beragama yang ideal. Boleh berdakwah, tapi tidak boleh memaksa. Dan memaksa orang lain untuk mengikuti keyakinan, itu diharamkan oleh Islam. Jadi, sudah sangat jelas toleransi yang ada pada Islam. Yang paling pokok selain toleransi adalah keadilan. Bagaimana pandangan hukum terkait dengan agama-agama yang berbeda-beda tersebut. Tentulah harus sama dimata hukum. Tidak perlu memanjakan agama mayoritas, daripada yang minoritas. Tapi juga jangan sampai menzholimi agama yang mayoritas. Jadi, keadilan menjadi faktor penyeimbang terhadap toleransi yang terjalin antar umat beragama.

Toleransi yang ada itu dibatasi oleh keyakinan dan peribadatan. Sepajang tidak masuk kedalam ke 2 hal tersebut, semua hubungan bisa dijalankan dengan baik. Perdagangan, bisnis, atau kontrak kerja lainnya, bisa dilaksanakan dengan baik, walau berbeda agama. Tapi, jika menyangkut keyakinan dan peribadatan yang masing-masing agama berbeda antara satu dengan yang lainnya, ini perlu adanya pembatas agar tidak masuk ke wilayah agama lain.

Satu contoh yang rutin di diskusikan dan sering di perdebatkan di tengah kehidupan masyarakat, yaitu mengucapkan selamat pada hari-hari besar keagamaan orang lain. Dalam konteks kenegaran tentu ucapan selamat itu tidak ada larangan, malah dianjurkan untuk memperkuat Bhinneka Tunggal Ika.

Misalnya saja; ucapan selamat natal dan tahun baru. Bila ditinjau dari kacamata Islam, para ulama berbeda pandangan. Ada yang boleh-boleh saja, tapi ada pula yang mengharamkan. Mari persoalan tersebut didudukan bersama, yang akan diperinci sebagai berikut:

1. Pindah Keyakinan

Menjadi sebuah pertanyaan, apakah ketika seseorang mengucapkan selamat natal dan tahun baru, maka keyakinannya berubah? Jika, ucapan tersebut tidak berdampak pada keyakinan. Maka, boleh-boleh saja. Lain halnya, jika ucapan selamat natal dan tahun baru menggerus akidah keimanan seseorang atau merubah keyakinannya pindah ke agama lain. Bila itu yang terjadi, tentu mengucapkan selamat natal itu haram baginya.

Ini menjelaskan hal yang menyangkut keyakinan pada dasarnya tidak bersifat global, tapi hanya tertuju pada pribadi masing-masing. Mungkin ucapan tersebut berdampak bagi keyakinannya, tapi yang lain tidak. Jika, hanya sekedar menghormati, maka ucapan tersebut sah-sah saja.

2. Pengetahuan Terhadap Sejarah

Ya, mungkin anggap saja, mengucapkan selamat natal dan tahun baru itu boleh-boleh saja. OKlah, semua orang sepakat hal itu. Namun, muncul sebuah persoalan, yaitu kebenaran terhadap apa yang diucapkan.

Contoh, dari sejarah dan data yang ada si A, lahir pada tanggal 20 Mei 2000. Boleh sajalah, ketika ada orang mengucapkan selamat dengan niat memberitahu bahwa umurnya berkurang, supaya bermuhasabah diri dengan ucapan "selamat hari lahir ya atau selamat ulang tahun". Tapi, ada sebagian orang yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada si A, setiap tanggal 20 juli. Artinya, ada sebuah kesalahan disitu.

Termasuklah pada ucapan selamat natal, jika tahun barunya sudah Ok. Karena ada sebagian orang yang berpengetahuan bahwa natal (kelahiran Yesus) bukan pada tanggal 25 Desember. Sehingga, bukan tidak mau mengucapkan selamat natalnya, tapi tidak mau membenarkan Yesus yang lahir tanggal 25 Desember tersebut.

Muncul persoalan baru, yang Anda harus menentukan sendiri. Secara logikanya, jika Anda telah mengetahui kebenaran sejarah yang akurat, tapi memberikan pernyataan yang salah untuk memperkuat keyakinan orang lain, maka Anda mau atau tidak. Ini jawaban terpulang kepada diri Anda masing-masing.

3. Konsistensi Peribadatan

Ucapan selamat natal dan tahun baru itu masuk kedalam ranah ibadah atau bukan. Jika, Anda berpandangan masuk ke ranah ibadah, jelas ucapan tersebut tidak diperbolehkan. Tapi, jika tidak masuk ke ranah ibadah, ucapan tersebut boleh-boleh saja.

Baca juga: 4 Permasalahan Yang Muncul Akibat Keberagaman Ekonomi

Tapi, yang perlu ditekankan adalah pada konsistensinya. Sehingga memunculkan toleransi beragama. Bila, seseorang menganggap ucapan selamat natal tidak diperbolehkan, maka tidak ada seorangpun bahkan negara yang berhak memaksanya dan Ia harus diberikan haknya, yang mungkin itu menjadi keyakinannya. Jadi, bukan berarti orang yang tidak mengucapkan selamat natal masuk ke in-toleransi, sebaliknya agama lain tersebut harus bertoleransi kepada orang yang tidak mengucapkannya.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar