Ingin Tahu! Apa Itu Unicorn Dalam Bisnis Yang Sedang Marak Diperbicangkan di Indonesia

Apa Itu Unicorn Dalam Bisnis Yang Sedang Marak Diperbicangkan
Pada debat pilpres tahun 2019, presiden Joko Widodo sering mengeluarkan kata Unikorn, pada pertanyaan yang diajukan kepada lawan tandingnya nomor urut 02 Prabowo Subianto. Mulai saat itu, kata unikorn marak diperbincangkan di masyarakat. Mungkin ada sebagian orang yang sudah faham, tapi tentu ada juga sebagian orang yang masih baru mendengarnya dan belum mengerti maksudnya.

Contoh dari unikorn di Indonesia cukup kelihatan secara jelas, misalnya Bukalapak dan Gojek. Dari contoh tersebut saja, tentu belum jelas penjelasannya. Untuk itu berikut ulasan tentang unikorn yang dilansir dari wikipedia.

Baca juga: Darimana Keuntungan Aplikasi Ojek Online Seperti Gojek Dan Grab

Kata unikorn berasa dari bahasa inggri: Unicorn. Unicorn diartikan perusahaan starup (rintisan) yang nilai kapitalnya lebih dari 1 milyar dollar yang dimiliki swasta. Pada tahun 2013, Aileen Lee membuat istilah unicorn tersebut. Ia seorang pemodal usaha dan alasannya memilih hewan langka (bahkan disebut mitos) tersebut, karena memang usaha seperti ini sangat langka. Di atas unicorn ada lagi, yang disebut dengan Dekakorn (bahasa inggris: dedacorn), yang merupakan starup dengan nilai kapitalisasi lebih dari 10 milyar dollar. Dan di atasnya lagi, disebut dengan Hektokorn (bahasa inggris: hectocorn), yaitu starup dengan kapitalnya lebih dari 100 milyar dollar.

Unicorn adalah gambaran mitologi dari spesies hewan kuda yang di kepalanya ada tanduk tunggal. Hewan tersebut merepresentasikan seekor kuda dogeng dengan sebuah starup yang dibangun sangat sulit, mustahil dan langka dalam menggapai kesuksesan.

Pada tahun 2013, Lee yang dikenal sebagai investor Cowboy Ventures tersebut, telah mengidentifikasi perusahan tergolong unicorn ada 39. Setelah itu, di tahun-tahun berikutnya pertumbuhan perusahaan starup semakin pesat.

Di Indonesia sendiri, ada 4 perusahaan starup yang sukses, diantaranya Gojek (yang memiliki nilai sebesar 16,5 milyar dollar), Tokopedia (yang memiliki nilai 7 milyar dollar), Traveloka ( nilainya 4,1 milyar dollar) dan Bukalapak (nilainya >1 milyar dollar). Angka tersebut juga akan terus berubah, tergantung pada pertumbuhan yang dialami perusahaan tersebut. Untuk 4 perusahaan ini, banyak investor yang masuk didalamnya, sebab nilai 1 milyar dollar di mata dunia starup adalah biasa saja (tirto.id).

Dalam menghitung nilai perusahaan starup dengan perusahaan konvensional, menurut Tech In Asia, sama saja. Bedanya dalam aspek yang menjadi pertimbangan penilaian, jika dalam perusahaan konvensional aspek yang perlu di nilai dalam bursa sahan, kepemilikan saham lain, utang yang dimiliki, dan kas yang ada. Sedangkan pada perusahaan starup, aspek yang dinilai diantaranya: nominal transkasi, beserta jumlah transaksinya, pengguna yang ada, teknologi yang dipakai dalam produk, tim yang profesional dan berkualitas, serta pesaing.

Sebenarnya semua starup adalah unicorn, berdasarkan penilaian dari investor yang berpartisipasi dan pemodal ventura dalam putaran dana bisnis tersebut. Tapi ada sisi lain dari penilaian sejadinya starup berstatus unicorn, yaitu pada potensi perkembangan dan pertumbuhan bisnisnya.

Sebuah perusahaan yang diberikan status unicorn tidak ada kaitannya dengan keuntungan ataupun kinerja keuangan dalam perusahaan, serta aspek fundamental lainnya. Pernyataan tersebut berdasarkan laporan yang dikutip dari Corporate Finance Institue (CFI). Ingat juga! bahwa tidak jarang perusahaan yang sudah dicap unicorn, tapi belum mendapatkan keuntungan. Karena, perlu ada proses pertumbuhan dan perkembangan bisnis dalam waktu jangka panjang. (cnnindonesia)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel