Inilah Perbedaan Antara Perbankan Konvensional dan Perbankan Syariah

Perbankan konvensional menggunakan hukum perdana dan pidata yang berlaku di negara Indonesia, yang dalam praktek sistem-nya menggunakan bunga sebagai salah satu keuntungan bank. Sedangkan pada perbankan syariah, tentu dalam menjalankan sistem-nya berlandaskan pada Alqur'an, Hadist, dan fatwa ulama. Perkembangan bank syariah di Indonesia saat ini semakin meningkat, terbukti banyak orang yang beralih ke sana. Tapi, bila dibandingkan dengan bank konvensional, bank syariah masih kalah jauh.
Perbedaan Antara Perbankan Konvensional dan Perbankan Syariah

Memang banyak orang masih beranggapan bank konvensional maupun bank syariah sama saja. Sama-sama mencari keuntungan dan bila dihitung-hitung, maka pinjaman apapun baik di perbankan konvensional maupun perbankan syariah dilipatkan. Sebagai contoh, jika pinjam uang di bank konvensional untuk keperluan membeli rumah sebesar 100 juta. Dengan bunga 20%, maka pinjaman tersebut akan dikembalikan kepada pihak bank sebanyak 120 juta. Bank konvensional untuk sebesar 20 juta. Bandingkan dengan meminjam uang di bank syariah yang tujuannya juga untuk membeli rumah, sebesar 100 juta. Pihak bank tidak menyerahkan uang nya, tapi membelikan rumah yang kemudian akan dijual kepada si peminjam. Pihak bank membeli rumah seharga 100 juta, kemudian menjualnya kepada nasabah sebesar 120 juta.

Baca juga: Darimana Keuntungan Bank Syariah

Dilihat dari ke dua transaksi tersebut, baik bank konvensional maupun bank syariah sama-sama mendapatkan keuntungan 20 juta. Disinilah, persepsi dari sebagian masyarakat Islam yang keliru menganggap bank konvensional dan bank syariah sama saja.

Perlu dipahami juga, bahwasanya bank syariah itu bukan lembaga sosial atau sebuah organisasi amal. Bank syariah juga bertujuan untuk memperoleh profit, tapi yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Tidak semberono dalam menjalankan sistemnya, akan bisa jatuh kepada riba seperti yang dilakukan bank konvensional.

Supaya lebih jelas, perbedaan antara bank konvensional dengan bank syariah, simak uraiannya di bawah ini;

Inilah Perbedaan Antara Perbankan Konvensional dan Perbankan Syariah

1. Dalam mencari keuntungan

Bank konvensional mencari keuntungan dengan sistem bunga. Dan penerapan sistem bunga saat ini termasuk pada riba. Di dalam Islam sudah dijelaskan bagaimana dosa riba jika terapkan. Penerapan bunga untuk mencari keuntungan yang dilakukan pihak bank dilarang, sebab menambah jumlah peredaran uang.

Baca juga: Apakah Bunga Bank Sama Dengan Riba?, Simak Jawabannya Berikut Ini!

Pada bank syariah, keuntungan didapat dari bagi hasil. Si nasabah (pemilik uang) menyerahkan uangnya kepada pihak bank, dan pihak bank mengelola uang tersebut. Lalu keuntungan yang didapat di bagi antara pihak bank dan nasabah. Usaha yang dijalankan misalnya murabahah, bila ada seorang nasabah yang ingin membeli rumah. Lalu pihak bank membeli rumah tersebut lalu menaikkan harganya, sebagai transaksi jual beli menggunakan uang nasabah. Keuntungan penjualan rumah itulah yang dibagi-bagi

2. Sistem transaksi

Pada bank konvensional, transaksinya berdasarkan hukum posistif yang berlaku di Indonesia. Sedangkan pada bank syariah, transaksinya berdasarkan Al-Qur’an, Hadist dan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). Jenis transaksi pada bank syariah antara lain akad wadiah (akad penitipan barang/uang), mudharabah (akad kerjasama penyedia dana dan pengelola dana), musyarakah (akad kerjasama usaha dengan porsi dana masing-masing), murabahah (akad pembiayaan barang dan pembeli membayar lebih sesuai dengan yang telah disepakati), al-musaqat (kerja sama tani), al-ba’i (bagi hasil), al-ijarah (sewa-menyewa), dan al-wakalah (keagenan).

3. Pengelolaan dana nasabah

Baik bank syariah maupun bank konvensional sumber utama dananya berasal dari uang nasabah. Uang dari nasabah itulah yang terus diputar dan dikelola sebaik mungkin untuk mendapatkan keuntungan, baik ke pihak bank maupun ke para nasabah.

Keduanya mempunyai cara masing-masing dalam mengelola dana nasabah. Intinya pada bank syariah tidak sembarangan dalam mengelola dana yang ada, harus melihat halal haramnya suatu usaha yang akan dijalankan dari pemakaian uang nasabahnya. Bagi bank konvensional tidak memperdulikan usaha yang dijalankan, selama pada debitur dapat membayar pinjamannya dengan lancar kepada pihak bank, maka tidak ada yang perlu dipermasalahkan.

4. Sistem kredit bank

Cicilan untuk pembayaran kredit pada bank syariah bersifat tetap, jelas, dan transparan di sesuaikan dengan akad yang sudah disepakati sejak awal perjanjian antara pihak nasabah dan pihak bank. Namun, pada bank konvensional sistem cicilan seringkali hanya berlaku dalam periode tertentu saja yang bisa bersifat fluktuatif dan hal tersebut lebih menguntungkan pihak bank ketimbang nasabahnya.

5. Lembaga pengawasan

Bank konvensional maupun bank syariah, sama-sama di awasi oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dan BI (Bank Indonesia). Namun, ada tambahan lagi untuk bank syariah, yaitu diawasi oleh DPS (Dewan Pengawas Syariah).

6. Jalinan hubungan bank dengan nasabah

Di bank syariah, nasabah sebagai mitra atau rekan kerja, yang saling menguntungkan satu dengan yang lainnya. Sedangkan pada bank konvensional, hubungan dengan nasabah seperti sebagai pihak peminjam dengan pihak pemberi pinjaman.

7. Penyelesaiannya masalah

Permasalahan yang terjadi di bank syariah di selesaikan dengan musyawarah terlebih dahulu, lalu jika belum dapat diselesaikan barulah ke pengadilan agama untuk mencari mufakat bersama. Sedangkan di bank konvensional, permasalahan yang terjadi langsung di bawah ke ranah hukum pengadilan negeri.

0 Response to "Inilah Perbedaan Antara Perbankan Konvensional dan Perbankan Syariah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel