3 Jalan Kehidupan yang Harus Dipilih sebagai Manusia Cerdas

Setiap manusia dibekali oleh Allah kecerdasan yang membuatnya mampu memilah dan memilih. Mau menuju jalan apa, terserah kepada manusia itu sendiri. Allah telah memberikan fasilitas kecerdasan tersebut supaya dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Sehingga, jalan yang diambil merupakan jalan yang diridhoi.
3 Jalan Kehidupan yang Harus Dipilih sebagai Manusia Cerdas

Ada 3 jalan kehidupan yang harus dipilih sebagai manusia cerdas, sebagai berikut;
1. Jalan Kesesatan
2. Jalan Kemarahan
3. Jalan Kenikmatan

Baca juga: 3 Jenis Hubungan Manusia Yang Harus Realisasikan

Memilih jalan kesesatan sudah sangat jelas tidak mungkin dilakukan oleh orang yang menyatakan dirinya beriman. Allah memerintahkan menuju A, lalu yang dituju adalah B, itu gambaran kesesatan nyata, sebab sudah secara terang 180 derajat bertentangan dengan perintah Allah.

Berikutnya jalan kemarahan, yang jalan itu banyak orang yang memilihnya. Jalan kemarahan bukan tidak melakukan perintah Tuhan. Tapi pada saat melaksanakan perintah tersebut, bawaannya mau marah saja, bahkan ibadah itu dianggap sebagai beban bagi dirinya.

Kemarahan itu jelas datangnya dari setan. Setanlah yang mewariskan sifat marah, yang dimulai sejak kegagalannya menjadi khalifah di muka bumi. Sangking marahnya, Ia pun enggan bersujud kepada Nabi Adam as yang jelas jela itu merupakan perintah Allah.

Jadi tidak benar sepenuhnya, bila kemarahan itu datangnya karena punya darah tinggi. Baik yang darah tinggian maupun rendah, sama saja. Bila sudah masuk sifat setan tersebut, bawaannya memang maunya marah. Sama kucing saja marah atau sama bebek saja marah. Padahal itu hewan, tapi toh tetap dimarahi.

Hebatnya lagi dari kemarahan tersebut, bisa menghapus kebaikan. Maksudnya, kemarahan itu seperti amoeba yang beranak pinak membelah dirinya menjadi banyak. Saat orang lain melakukan satu kesalahan, kemarahannya bukan tertuju kepada yang salah saja, akan tetapi kesalahannya semakin banyak, seolah-olah tidak ada kebaikan sama sekali.

Misalnya, orang tua A menyuruh anaknya membeli gula. Perkiraan waktu hanya 10 menitan saja, tapi sudah 2 jam anaknya belum pulang juga. Nah, sampainya di rumah anak tersebut langsung dimarahi. Marahnya bukan hanya pada terlambat membeli gulanya, tapi marahnya si A bertambah banyak. Mulailah Ia marah melihat mata si anak, marah terkait nilai sekolahnya, bahkan sampai dikatakan si anak oon banget, dan singkat cerita kemarahan dilampiaskan kepada semua yang dianggap salah. Padahal si Anak tadinya hanya berbuat satu kesalahan saja.

Hidup dengan kemarahan itu tidak nikmat. Jangankan terhadap kesalahan kecil, bisa menimbulkan kemarahan, melaksanakan kebaikan pun bisa muncul perasaan marah tersebut. Ada teman nasehati sesuatu yang benar, langsung maunya marah. Mengerjakan sholat berjama'ah di mesjid terasa seperti beban, yang kalau imamnya bacaan ayatnya panjang, didalam hatinya bergumam dan muncul rasa marah terhadap orang yang jadi imam.

Berikutnya jalan kenikmatan, yang harusnya menjadi prioritas setiap orang Islam. Perkara kebaikan apapun bukan menjadi beban, sehingga dalam menjalankannya sangat terasa nikmat. Semua kebaikan yang bisa dilakukan merupakan kesempatan yang diberikan Allah. Nikmat rasanya masih diberikan kesempatan bisa datang ke Mesjid melaksanakan sholat berjama'ah. Nikmat rasanya masih bisa mendatangi majelis ta'lim.

Kesempatan yang ada itu, belum tentu bisa didapatkan oleh orang lain. Oleh karenanya, kesempatan untuk bisa mengerjakan kebaikan sekecil apapun, harus memberikan kenikmatan. Kesempatan bisa melakukan amal sholeh merupakan pemberian Allah yang pada akhirnya akan kembali kepada pengamalnya itu sendiri menjadi sebuah kenikmatan.

Dapat pekerjaan yang enak dengan gaji yang besar, itu semua merupakan kenikmatan. Banyak sekali bentuk-bentuk kenikmatan dalam rezeki yang diberikan Allah. Ada nikmat punya uang, ladang, ternak, pasangan yang baik, dan seterusnya. Tapi bila diurutkan kesemua rezeki itu, maka nikmat ibadah itu nomor satunya.

Masih ada kesempatan bisa beribadah, itulah rezeki nomor satu untuk mendapatkan kenikmatan. Orang banyak uang, belum tentunya hidupnya nikmat. Tapi, bila mengejar kesempatan ibadah, yakinlah hidup menjadi nikmat.

Dapat gaji bulanan tapi tidak pernah berinfaq, sedekah, dan zakat, yakinlah uangnya tidak terasa nikmat. Ada sebagian uang yang dikeluarkan ke jalan ibadah, Allah langsung memberikan kenikmatan di hatinya. Di dunia saja, ibadah itu sudah dirasakan sangat nikmat, apalagi di akhirat. Semua ibadah yang pernah dikerjakan akan mengikutinya sebagai bekal.

Baca juga: Sabar dan syukur sebagai pemuas hidup

Setelah menapaki jalan kenikmatan, langkah berikutnya yang harus dilakukan ialah konsistensi. Konsisten terhadap jalan yang dipilih hingga sampai kesempatan itu berakhir.

0 Response to "3 Jalan Kehidupan yang Harus Dipilih sebagai Manusia Cerdas"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel