Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Khutbah Jum'at: Ketidakadilan, Kezholiman dan Zaman Fitnah

Isi khutbah pertama:

Dari abu hurairah, rasulullah mengatakan: "Akan datang kepada manusia tahun-tahun fitnah yg penuh tipu daya"

Zaman fitnah sungguh lebih mengerihkan dari zaman ketidakadilan dan kezholiman. Tapi dizaman fitnah tentu didalamnya ada yang namanya ketidakadilan dan kezholiman. 

Ketidakadilan, ianya tidak menempatkan sesuatu pada porsinya. Misalkan: tentang uang jajan. Seorang ibu memiliki yang bersekolah SD, SMP, SMA. Semua anak tersebut diberikan uang jajan sebesar Rp. 5.000,-. Inilah sebuah perkara ketidakadilan tersebut. Sebab mereka memiliki kebutuhan yang berbeda. Oklah bagi yang SD, mungkin dengan uang segitu sudah mencukupi. Tapi bagi yang SMP dan SMA, jelas uang tersebut tidaklah cukup. Level jajanannya saja sudah berbeda disekolah mereka, bahkan level warungnya juga berbeda. Ya, wajarlah, anak SMA sudah lebih dewaaa dan menjad tampilannya dihadapan orang lain. Bagi seorang ibu memberikan uang jajan yang sama, memang seolah-olah itu tindakan yang adil, padahal itulah bentuk ketidakadilan. Dan memang, hal yang sama atau mencapai kesamaan itu, belum tentu merupakan keadilan. Walau sama-sama diberikan Rp. 5.000,-, cuman itu bukan adil namannya.

Sedangkan Kezholiman, berarti menghukum atau mengambil kebijakan merugikan bagi yang benar, sebaliknya membiarkan atau membebaskan yang salah. Tapi pada saat itu semua orang masih tahu mana yg benar dan mana yg salah. Mayoritas orang akan tetap membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah. Walau yang benar yang diberi hukuman. Namun, setidaknya yang benar dan yang salah masih terlihat dengan jelas.

Kita tentu masih ingat kisah nabi Yusuf dengan Zulaikha. Saat itu pengadil keduanya merupakan sepupu Zulaikha. Bayangkan saja jika kasus tersebut terjadi disaat ini, sepertinya dari kebanyakan keputusan tentulah saudara yang dibela. Tapi, ternyata pengadil mengatakan sesuatu yang benar, tanpa memandang siapa Zulaikha dan siapa suaminya. Ia mengatakan "jika baju Yusuf robek bagian depan, maka yang salah adalah Yusuf. Tapi, jika baju yang robek bagian belakang, maka yang salah adalah Zulaikha". Dan tepat sekali baju yang robek ada pada bagian belakang, istri Imra'atul Aziz itulah yg salah.

Imra'atul Aziz, pengadil dan bahkan masyarakat saat itu tau, bahwa nabi Yusuf yang benar. Bahkan, Zulaikha sampai di cap negatif di kalangan wanita bangsawan, karena menyukai budaknya sendiri. Namun, nabi Yusuf-lah yang dipenjarakan. Itulah contoh dari sebuah kezholiman.

Nah, di saat orang-orang bingung mana yg benar dan mana yg salah. Maka itulah tanda telah memasuki zaman fitnah. Ketidakjelasan menentukan mana yang benar dan mana yang salah, itu salah satu bentuk yang ada didalam zaman fitnah.

Misalkan saja, ada ulama yang dipenjarakan. Lalu, ada sebagian orang mengatakan bahwa tindakan tersebut zholim. Tapi, ada sebagian dari kalangan yang mengatakan perlakuan tersebut sangat tepat dilakukan kepada ulama tersebut. Dianggap ulama itu sendiri yang telah melakulan kesalahan. Saat kebenaran dan kesalahan sudah menjadi kabus dan orang-orang sudah bingung menentulan sebenarnya mana yang salah dan mana yg benar. Saat itu terjadi, sudah dapat dikatakan sebagai zaman fitnah. 

Allah berfirman dalam Al-Qur'an surat Al An'am ayat ke 116:

Surat al an'am ayat 116

Terjemahan: Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).

Pada surat tersebut Allah menegaskan, bahwa bukan karna dilakukan banyak orang, sesuatu itu menjadi benar atau karena jumlah pelakunya sedikit maka perbuatan itu salah. Benar dan salah tidak tergantung sebanyak apapun pelakunya. Yang benar tetaplah benar walau tidak ada sama sekali yang melakukannya. Dan kesalahan tetap salah, walau bnyak orang yang melakukannya. Tidaklah bisa orang mengintervensi benar menjadi salah atau salah menjadi benar. Karena benar dan salah itu sudah mutlak. Oleh karenanya, manusialah yang menginterpretasinya.

Di zaman fitnah ini, janganlah sampai tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Aplagi melakukan sesuatu yang dianggap benar, tapi sebenarnya itu salah.

Oleh karena itu, harus berpegang pada kebenaran yang haq, yakni Alqur'anul Qariim. Serta untuk memperlihatkan seuatu yang haq dan bathil, penting peranan ulama diperbagai lini. 

surat fatir ayat 28

Terjemahan: Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

Ulama haruslah yang menjadi pemimpin. Kuasi lini kehidupan dan menyampaikan kebenaran dalam perbuatan, serta lisan secara terang benderang.

Ada yang mengatakan, berdaganglah seperti Cina, biar untung kecil tapi penjualan lancar. Itu pikiran yang tertanam dalam benak pedagang-pedagang tersebut. Padahal untung mereka itu besar, bisa sampai 50%, 70%, atau 100%. Mengapa demikian? karena mereka telah mengusai harga di market, mereka menjadi orang pertama barang masuk dan mereka berhasil meyakinkan bahwa harga yngg dijualnya itu murah. Sebab apa? sebab mereka punya kekuatan dan kekuasaan.

Jadi, mari berikan kekuatan dan kekuasaan bagi para ulama, supaya peran kenabian yang diemban mereka dapat mewujudkan kehidupan yang benar-benar Islami.

Isi khutbah kedua:

Percayalah tanpa kekuasaan dan kekuatan, maka gelar khaira ummah sulit diraih.

Sebab: "Power tends to corrupt, and absolute power corrupt absolutely" (kekuasaan itu cenderung korup, dan kekuasaan yang mutlak pasti korup) Lord Acton seorang akdemisi dari universitas Oxford.

Jadi, idealnya ulama lah yng sebaiknya mengambil peran terhadap kekuasan. Agar ketidakadilan, kezholiman dan fitnah bisa dicegah dan diberantas dari kehidupan ini.

Post a Comment for "Khutbah Jum'at: Ketidakadilan, Kezholiman dan Zaman Fitnah"