Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Hukum Vaksinasi, Infus ataupun Suntik Vitamin Saat Berpuasa

Saat ini lagi gencar-gencarnya vaksinasi dilakukan di berbagai daerah yang ada di Indonesia. Terutama yang ada di lingkaran pemerintahan, organisasi-organisasi yang mendukung vaksinasi dan juga pihak yang mempercayai bahwa vaksinasi itu dapat mencegah virus tentulah akan melakukan vaksinasi. 

Hukum vaksinasi, infus, ataupun suntik vitamin saat berpuasa

Kita sama ratakan saja, semua orang membenarkan dan menghalalkan vaksinasi, serta sepakat menggunakannya. Namun bagaimana hukumnya jika vaksinasi saat berpuasa?. Yang juga pertanyaan ini tentunya selaras dengan penggunaan terhadap infus ataupun suntik vitamin. 

Rata-rata banyak yang menerima pendapat, baik itu vaksinasi, infus ataupun suntik vitamin diperbolehkan saat berpuasa dan hal tersebut tidak membatalkan puasa. Yang salah satu alasannya, zat tersebut tidak masuk melalui mulut.

Analogi tersebut, ada yang menceritakan bahwasanya, jika dengan memasukkan sesuatu ke dalam tubuh itu dapat membatalkan puasa, mungkin saja ketika ada seseorang yang selesai buang air besar, lalu cebok dan pada saat itu jarinya masuk ke dalam dubur. Nah, jadi batallah puasanya. Karena ada sesuatu yang masuk ke dalam tubuh. 

Pikiran seperti itulah yang menyamakan dengan zat yang masuk melalui tidak mulut, maka diperbolehkan dan tidak membatalkan puasa. Begitu halnya dengan vaksinasi, infus ataupun suntik vitamin yang masuk zatnya ke dalam tubuh bukan melalui mulut. 

Padahal bila dicerna dengan baik-baik, masuknya jari ke dalam dubur tidak bisa disamakan dengan vaksinasi, infus ataupun suntik vitamin. Sebab efeknya berbeda. 

Perhatikanlah pengaruh vaksinasi, infus ataupun suntik vitamin. Itu sebenarnya sama seperti orang yang makan. Dengan Vaksinasi, imun seseorang bertambah dan badannya pun menjadi segar dan kuat, walaupun biasanya ada efek mengantuk dan sebagainya. Dan hal itu, sama juga dengan makan nasi yang membuat ngantuk.

Lalu, infus yang zatnya sama juga fungsinya dengan makan. Mengenyangkan dan badan terisi dengan nutrisi-nutrisi seperti halnya makan. Tidak membatalkan puasa karema sakot, tapi melakukan inpus pada saat puasa supaya bisa mempertahankan puasanya. Sebenarnya hal tersebut tidak sesuai dengan kaidah Islam. Karena dalam melaksanakan puasa, jika sakit atau memang sudah tidak mampu berpuasa maka batalkan saja, lalu menggantinya di hari lain atau di bulan-bulan selain Romadhon. 

Berikutnya berkenaan dengan vitamin. Secara logika berfikir suntik vitamin = makan. Memang masuknya tidak melalui mulut, tetapi efek dari suntik vitamin mungkin lebih baik dari makan. Terkadang orang makan saja itu alakadarnya supaya ia kenyang. Nah... Dengan suntik vitamin mungkin lebih baik karena nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh itu masuk. 

Jadi kesimpulannya, baik vaksinasi, infus ataupun suntik vitamin, Janganlah dilakukan saat sedang berpuasa. Hal itu merupakan ijtihad atau masalah kontemporer yang memang belum pernah terjadi di zaman Rasulullah. Sehingga lebih baik menghindarinya untuk tidak terjebak dari hal-hal yang bisa jadi benar-benar membatalkan puasa. Dalam hal ini prinsipnya kehati-hatian yang perlu dijaga agar ibadah Ramadan kita betul-betul maksimal.

Dan ingat! banyak sekali penguasa di kekuasaan dalam meraih kepentingannya menggunakan fatwa-fatwa agama. Seolah-olah hal tersebut diperbolehkan oleh agama tapi ternyata ujungnya adalah jualan obat. Begitu pun, pernyataan di artikel ini bukan secara mutlak tidak membenarkan vaksinasi, infus ataupun suntik vitamin. Tapi lebih menyarankan untuk berhati-hati saja. 

Dan lebih baiknya lagi, jika dilakukan di luar berpuasa. Mau itu vaksinasi, infus ataupun suntik vitamin tidak dilarang dan yang jelas menghindarkan dari keraguan. Toh... masih ada waktu selain saat berpuasa, kenapa tidak memilih waktu tersebut saja?

Post a Comment for "Hukum Vaksinasi, Infus ataupun Suntik Vitamin Saat Berpuasa"