Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Perlakuan Hutang dalam Islam Lengkap dari si Pemberi Hutang (Kreditur) dan Relevansi Ayat Hutang dengan Ilmu Akuntansi

Dalam aktivitas kehidupan ini sering terjadi meminjami hutang dan berhutang. Itu merupakan hal biasa, mengingat kebutuhan setiap orang harus dipenuhi dengan uang. Jika seseorang kekurangan uang untuk keperluan kebutuhannya. Salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan tersebut adalah dengan berhutang / meminjam uang kepada orang lain, biasanya kepada orang terdekat ataupun keluarga. 

Lantas, Bagaimana perlakuan hutang dalam Islam dari si pemberi hutang (kreditur), bilamana hutang tersebut sulit dibayarkan atau bahkan peminjam tidak mampu membayar hutangnya. Kejadian seperti itu memang kerap sering terjadi di kalangan masyarakat, yang peminjam tidak lagi mampu membayar hutangnya. Lah, kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dari hutang yang tidak terbayarkan tersebut mulailah renggang persahabatan, persaudaraan keluarga bahkan enggan saling bertemu dan menimbulkan sebuah permusuhan. 

Padahal di dalam Islam telah mengatur secara lengkap Bagaimana perlakuan terhadap hutang. Baik dari sisi pemberi utang atau dari sisi peminjam. Di dalam AlQuran surat Al-baqarah - 280:

Al Baqarah ayat 280 tentang meringankan beban hutang





Terjemahan: Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.

1. Jika peminjam mulai sukar untuk membayar hutangnya. Mungkin ia sudah beberapa kali membayar tetapi kemudian mulai sulit untuk membayar. Maka menurut petunjuk ayat di atas, si pemberi hutang harus meringankan beban peminjam dengan memberikan tempo waktu lebih lama dari perjanjian di awal. Dari selang waktu yang diberikan, tentunya peminjam lebih terbantu dan lebih ringan untuk membayar cicilan hutangnya. Bagaimana jika sudah diperpanjang waktunya si peminjam juga belum bisa membayar hutangnya. Maka si pemberi hutang harus memberikan perpanjangan waktu lagi. 

Dari sisi peminjam juga harus jujur atas kemampuan membayar hutangnya. Katakan saja dengan baik kepada pemberi hutang bilamana benar-benar tidak mampu membayar hutang. Dipihak pemberi hutang akan bisa mengerti dan sadar bahwa peminjam tidak lagi mampu membayar hutangnya. Bahkan mungkin untuk memenuhi kebutuhannha saja sudah sulit, apalagi ditambah harus membayar hutangnya.

2. Setelah memberikan tempo yang lebih lama kepada peminjam dan hutang pun tidak bisa terselesaikan. Selanjutnya yang dilakukan pemberi hutang adalah dengan mensedekahkan sebagian atau keseluruhan hutang tersebut. Mungkin dengan memotong 50%. Jadi peminjam hanya melunasi hutangnya separuh saja. Lalu Jika dengan potongan juga tidak bisa dilunasi, maka Allah menyatakan lebih baik mensedekahkan semua hutang tersebut.

3. Menyedekahkan hutang lebih baik jika mengetahui. Pahala dari membebaskan hutang jauh lebih besar daripada nilai hutang tersebut. Dengan meringankan beban saudara yang berhutang tentu Allah juga akan mempermudah jalan menuju surga. Perasaan orang yang dibebaskan hutangnya sangatlah bahagia dan pesan tersebut tidak bisa disampaikan dengan kata-kata. Peminjam itu pun akan selalu mengingat kebaikan orang yang membebaskan hutang tersebut dan mendoakan dengan ikhlas mudah-mudahan diberikan rezeki yang berlimpah kepada orang yang telah memberikan hutang dan menyedekahkan hutang tersebut. Inilah sebagian maksud apa yang disampaikan oleh Allah jika kamu mengetahui. Ternyata kebaikan-kebaikan yang didapatkan dengan menyedekahkan hutang daripada mendapatkan pelunasan hutang.

Relevansi ayat hutang dengan ilmu akuntansi ternyata sangat sejalan. Pada ilmu akuntansi dikenal dengan istilah penghapusan piutang. Berarti individu atau lembaga yang berhutang dapat dihapuskan hutangnya jika tidak mampu membayar. Atau sebelum dihapus hutangnya diberikan tangguh pembayaran dan juga potongan. Akan tetapi jika debitur atau peminjam bisa kembali mendapatkan keluasan rezeki untuk membayar hutangnya, dengan itikad baik tersebut maka kreditur atau si pemberi pinjaman akan menerimanya. Ada saatnya peminjam memang sulit bayar hutang, akan tetapi ada saatnya pula si peminjam memiliki kemampuan yang mudah membayar hutangnya. 

Intinya terhadap perlakuan hutang adalah meringankan bukan menyulitkan. Ayat Allah terkait hutang dengan ilmu akuntansi sangat relevan dijalankan dalam aktivitas utang-piutang. Bahkan ayat Allah sudah lebih jauh ada ketimbang ilmu akuntansi pada bagian penghapusan piutang. 

Bagi setiap pemberi pinjaman tentu Harus berpikir menyedekahkan hutang yang diberikan sejak dari awal serah terima uang ada peminjam. Pemikiran ini akan membawa kepada keikhlasan sebelum nantinya terjadi penunggakan hutang dan sulitnya peminjam melunasi hutangnya. Walau begitu tetap saja tahapan-tahapan dalam meringankan beban penghutang harus dilakukan mulai dari penangguhan waktu, pemberian diskon hingga menyedekahkan sisa dari hutang yang ada. 

Jangan biarkan peminjam merasa sepele terhadap hutangnya. Dan merasa tidak perlu melunasi hutangnya. Sikap tersebut bukanlah meringankan malah akan membuat peminjam semakin dirugikan karena kewajiban hutang akan langsung ditagih di sidangnya Allah di akhirat kelak. Hal tersebut akan semakin memperburuk keadaan dan pemikiran inilah yang harus ditanamkan kepada setiap peminjam supaya dia tidak mudah berhutang, tidak sepele terhadap hutangnya, sungguh-sungguh dengan kerja keras berupaya melunasi hutangnya dan jika tidak sanggup membayar maka dengan iktikad yang baik dia sampaikan kepada pemberi hutang supaya dapat meringankan bebannya.

Post a Comment for "Perlakuan Hutang dalam Islam Lengkap dari si Pemberi Hutang (Kreditur) dan Relevansi Ayat Hutang dengan Ilmu Akuntansi"