Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sejarah Kopi Islam Sebagai Fakta dari Cerita yang Ditinggalkan

Ramadhan merupakan bulan suci Islam yang berarti bahwa umat Islam yang taat wajib melaksanakan puasa dari terbit fajar sampai senja. Puasa salah satu rukun Islam dan dilakukan agar memahami realita kehidupan orang-orang miskin dan orang-orang kelaparan. Sekaligus dalam rangka mendisiplinkan jiwa dan pikiran. Umat Islam bangun lebih awal di waktu sahar untuk melaksanakan makan sahur. Kemudian menghindarkan dari segala pantangan puasa, tidak hanya makan dan minum tetapi juga dari mengumpat, berkelahi, berbohong dan semua perbuatan tercela ataupun sia-sia hingga terbenamnya matahari. Termasuk di dalamnya minum kopi yach, mudah-mudahan yang terbiasa tiap hari ngopi enggak kelupaan, karena sedang berpuasa.

Sejarah Kopi Islam Sebagai Fakta dari Cerita yang Ditinggalkan

Ngomong-ngomong tentang kopi. Memang menjadi topik yang menarik untuk dibahas. Sepertinya sudah menjadi fakta bahwa kopi menjadi salah satu minuman terfavorit. Dan ternyata, kalangan Islam lah yang pertama kali menemukannya, tepatnya di Etopia-Century dan pertama kali digunakan oleh Sufi Muslim di Yaman sebagai bantuan untuk Sholat dan ibadah.

Info lainnya lagi, seperti institusi Caffee-House yang populer dikaitkan dengan pencerahan dan Eropa juga lahir di dunia Islam yang mencapai puncak kejayaannya di Levant dan Turki sebelum migrasi ke Eropa.

Namun demikian, seseorang berkebangsaan Kanada bernama Gopnik telah mengulas tentang Kopi secara tidak fair dan membuat batin muslim resah. Gopnik mengulas sebuah buku tentang sejarah kopi diantaranya buku Jonathan Morris tahun 2019 yang berjudul Caffee: A Global History. Tentu saja, seperti kebanyakan pengkritik, Gopnik banyak ngomong dan memperlihatkan bahwa dirinya berpandangan luas. Gopnik mengacu pada: Raja Louis XVI; Hunter S. Thompson; para petani El Salvador; Virgil's Georgies; kota Manchester; Karl Marx; "Adu banteng, tinju, foie gras, dan sepak bola"; acara televisi tahun 90-an, Seinfeld and Friends; dan buku-buku yang kebanyakan ada kaitannya dengan kopi dalam tiga puluh tahun terakhir.

Tapi ternyata ada sesuatu yang hilang dari bahasan Gopnik, yakni peranan Islam terhadap kopi. Bisa diketahui bahwa peranan Islam terhadap kopi telah direduksi menjadi sebuah kalimat "bila usai membaca buku ataupun majalah yang terkenal membicarakan tentang kopi, sama sekali tidak tahu bahwa kopi memiliki akar Islam". Apa yang dicapai oleh keindahan prosa semacam itu?

Selanjutnya, tentang Eurosentrisme yang juga merusak tulisan tentang kopi. Tapi sebelumnya, berikut ini sejarah krusial kopi:

Kata Caffee dalam bahasa Inggris berasal dari bahasa Turki yakni Kahveh. Kata itu juga diambil dari bahasa Arab Qahwah. Pada awalnya kata qahwah merujuk pada minuman lain sebelum ditemukannya kopi. Kopi merupakan stimulan model baru. Qahwah juga dikenal dengan sebutan "Anggur Islam".

Salah satu mitos asal mulanya kopi adalah dari seorang pengembala yang bernama Kaldi di abad ke-9 saat mengamati kambing gembalaannya memakan biji kopi. Lalu tiba-tiba ia melihat kambing-kambingnya menjadi energik. Kaldi pun ikut menelan buah merah tersebut. Demikianlah Legenda yang terus didengarkan banyak orang. Kisah tersebut banyak terdapat di literatur kopi Barat. Padahal ceritanya tidak dapat dikuatkan atau diverifikasi kebenarannya. 

Sebenarnya, para sejarawan menemukan sejarah kopi yang tak terbantahkan sampai hari ini dari apa yang diketahui dan ditulis dalam surat-surat para pelancong muslim abad ke-16. Bahwa ada seorang sejarawan kopi yang tidak diketahui siapa namanya pada abad 1400-an melaporkan ada tanaman baru misterius yang tumbuh di Etopia, lalu ditemukan juga di Yaman, yang tanaman itu digunakan untuk ibadah.

Muslim sufi di Yaman merebus daun ceri kopi dan membagikan ramuan yang berwarna gelap tersebut saat bersiap untuk dzikir malam atau I'tikaf. Seorang penulis Muslim abad ke-16 bernama Abd al-Qadir al-Jaziri mencatat kebiasaan para mistik:

“Mereka meminumnya setiap malam Senin dan malam Jumat. Menaruhnya di bejana besar yang terbuat dari tanah liat merah. Pemimpin mereka menyendok dengan gayung kecil dan memberikannya kepada mereka untuk diminum, memberikannya berputar ke arah kanan, sementara mereka sambil melafalkan. ‘There is no God, but God, the Master, the Clear Reality'." 

Kopi menyebar ke utara lalu ke wilayah Arab lainnya, termasuk kota suci Mekah dan Madinah dan ke kota-kota besar seperti Kairo, Aleppo, Damaskus, dan Konstantinopel. Sebuah institusi sosial baru yang didirikan, telah mengguncang fondasi politik selama berabad-abad setelahnya: kedai kopi (Coffee - House). Kedai kopi pertama di Istanbul dibuka pada tahun 1500-an oleh dua pedagang Suriah, Hakim dan Syams, yang selalu mendapatkan kekayaan melimpah melalui bisnis tersebut. Dunia Islam kemudian menjadi gila kopi.

Pada kekaisaran Ottoman kedai kopi pun bermunculan, menjadi forum diskusi intelektual, serta menjadi bisnis komersial yang sukses. Penyair dan penulis yang akan lulus, mereka menguatkan indera, hapalan, diskusi hal-hal kritis dengan berada di kedai kopi. Perdebatan sengit pun berkecamuk tentang seni, sains, maupun sastra. Tidak heran jika kafe-kafe orijinal ini disebut mektab-i-irfan atau sekolah pengetahuan.

Sanking populernya minuman tersebut, sampai-sampai kedai kopi menjadi pesaing masjid secara langsung. Kemudian, mulailah muncul isu-isu fatwa yang akan dikenakan kepada kopi tersebut. Datang dari Syekh dan penguasa memiliki pembenaran mereka sendiri untuk melarangnya: Jika zat berair ini benar-benar memabukkan pikiran, maka itu dapat dilihat sebagai analogi alkohol dan karenanya ia haram. Sementara itu, orang yang sudah menjadi Coffee Lover mulai menghasut dan mulai merencanakan pemberontakan di kedai kopi. Untungnya, argumen anti-kopi hilang pada hari itu juga dan abad-abad berikutnya tanpa adanya eksekusi pemberontakan dan fatwa yang jelas.

Melalui pedagang Venesia, kopi akhirnya masuk ke wilayah orang Kristen dan membawa kehidupan baru bagi mereka. Di sinilah percakapan kontemporer dimulai, setelah dua ratus tahun tertinggal berkenaan dengan kopi terhadap Islam. Seiring waktu, para pemikir Barat selanjutnya mulai menulis ulang cerita tentang kopi untuk menghilangkan penekanan dan meminimalkan peran Islam dalam kontribusinya di dunia per-kopi-an. Dan dari situlah hingga saat ini, tulisan dan cerita tentang kopi telah meninggalkan sejarah yang dimulai dari peradaban Islam.

Pertanyaan sebenarnya adalah, mengapa begitu banyak narasi yang dihilangkan terhadap sejarah Islam, Arab dan Muslim, padahal sangat menarik perhatian bagi pembaca dan juga sejarawan? 

Kisah kopi membuat orang terpesona, mitos, legenda atau migrasinya. Jika sahabat pernah duduk di kedai kopi Shanghai dan mempelajari sejarah di atas. Itu akan membuat bulu kudu merinding dan menyadarkan bahwa Islam telah memainkan peran penting dalam membawa kopi ke dunia.

Lalu Kita akan bertanya-tanya, mengapa mendengar kata kopi pasti terbayang orang Eropa?

Pernah mencicipi kopi terbaik di Istanbul, di Yerusalem Timur ataupum di Irak?. Seperti kebanyakan orang, sering berasumsi tentang kopi karena membaca dan disarankan oleh buku dan artikel: bahwa kopi ditemukan dan disempurnakan di suatu tempat antara Italia dan Prancis. Padahal, terlebih dahulu galilah sejarahnya - historiografi - jangan setengah-setengah.

Apa yang layak disebutkan dan mengapa? Bagaimana sebuah cerita dibingkai? Apa yang akan ditinggalkan? Ini bukan hanya pertanyaan estetika tetapi juga politik. Dan pertanyaan lainnya: Mengapa bagian-bagian dari cerita yang dianggap begitu penting dapat direduksi demi menyenangkan orang lain?

Berikut kalimat lengkap dalam esai Adam Gopnik:

“Sebagai alternatif dari alkohol, kopi adalah pusat dari peradaban Islam yang tidak dapat ditemukan sebelumnya di Abad Pertengahan. Dan menyebar dari Turki ke titik-titik barat, di mana kedai kopi menjadi kokpit Pencerahan. Bahkan hingga Islandia kecil, di mana ia menjadi sakramen nasional. ”

Tidak ada penyebutan sufi.

Tidak ada penyebutan Yaman.

Tidak ada penyebutan orang Arab.

Islam terbatas pada satu kalimat, diucapkan sepintas, dalam sebuah kalimat yang terdiri dari beberapa ribu kata. Bagaimana dengan akurasinya?

Sangat paham, mengapa Gopnik mungkin tidak berpikir bahwa penonton The New Yorker akan tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang akar kopi islam. Eurosentrisme menginfeksi sistem pendidikan di Barat, sebagaimana ia mendominasi di lingkungan sastra: kecenderungan untuk berpikir dan hanya peduli pada pencapaian Eropa dan Barat, dengan mengesampingkan orang lain. Sudah pastilah pandangan dunia yang rabun akan menghasilkan tulisan yang hampa.

Apa yang tidak dapat dipahami bahwa, bagaimana seorang penulis bisa begitu menjijikkan, bingung secara budaya. Sehingga dia mengulas topiknya di dua ratus tahun pertama. Mungkin rasa kecewa karena mengharapkan lebih. Asumsinya, seseorang akan dibentuk oleh lingkungan sosialnya. Seleranya, baik dalam sastra atau kopi, dibentuk oleh apa yang dianggap berharga oleh lingkungannya. Dan disaat budaya intelektual di sekitarnya tidak memberi ruang bagi sejarah orang lain, tentulah hanya akan mendapatkan konsepsi yang dibuat-buat dan menyesatkan tentang masa lalu.

Dari tempatnya saja, yang Lain dianggap tidak penting. Perannya dalam membuat sejarah kolektif, dianggap sejarah Islam tidak perlu diakui. Seluruh “kontribusinya” untuk peradaban Barat dan “kontribusi” adalah segalanya. 

Mungkin yang terjadi, jika seseorang hanya membaca esai Gopnik, akan menganggap bahwa Islam, Sufi dan Arab semuanya tidak bersinggungan dengan sejarah kopi eropa. Padahal semuanya memiliki relevansi yang lebih besar daripada foie gras atau Seinfeld.

Buku Coffee: A Global History, oleh sejarawan Jonathan Morris yang telah diulas dan direview Adam Gopnik ternyata juga tidak mencapai keselarasan.

Faktanya, penelitian Jonathan Morris bersifat kategoris dan menyatakan di depan:

"Sudah pasti bahwa selama dua ratus tahun pertama keberadaan kopi yang tercatat, antara 1450 dan 1650, kopi dikonsumsi secara eksklusif oleh hampir semua masyarakat Muslim yang adat istiadatnya menopang ekonomi kopi yang berpusat di sekitar Laut Merah. Ini adalah dunia dari mana versi modern berevolusi terhadap minuman dan dasar dari format kedai kopi kontemporer diletakkan."

Mungkin, kesalahan intelektual terletak pada Adam Gopnik dan para sejarawan juga memahami tampaknya secara intuitif ada yang menggantung dalam sejarah kopi. Termasuk esai yang dibuat oleh Adam Gopnik tanpa dasar sepengetahuan kritikus sastra. Istilah itu merupakan orientalis.  

Morris menulis: "Adopsi kopi di seluruh Kristen Eropa mencerminkan hubungan kompleks benua itu dengan Islam Timur. Ketertarikan pada 'Timur' memicu minat pada kopi, namun para pelancong yang menulis di awal abad ketujuh belas, sering kali berusaha menyelamatkan minuman dari asosiasi Muslimnya dengan membayangkan kembali masa lalunya."

Beginilah cara masa lalu menjadi rusak; dan bagaimana anak-anak Muslim memiliki citra diri yang terdistorsi. Ada buku teks yang menyarankan kepada mereka bahwa masa lalu tidak berharga, bahwa mereka tidak menemukan apa pun dari sejarah. Sejarah mereka bukan hanya tidak tercatat; mereka juga bisu (elision) dan diam. Bahkan ketika mereka seharusnya memiliki klaim untuk terikat pada masa lalu (sejarah tersebut), kecerdikan dan penciptaan. Ternyata dengan kejam telah dihapus dan seolah-olah itu tidak terjadi.

Sederhananya, banyak dari sejarah yang telah kita pelajari secara tidak sadar hanya merupakan asumsi. Seperti fantasi dan imajinasi yang tak dapat memahami luasnya warna pengalaman manusia. Sejarah seperti itu pantasnya di buang mr tong sampa saja.

Kopi, minuman yang paling bersahaja, seharusnya membantu kita membayangkan kembali hubungan historis antara budaya dan masyarakat. Zat ini adalah ramuan intelektual; alat untuk kontemplasi; bahan bakar untuk belajar dan pendidikan. Ini adalah satu-satunya minuman selain air yang menyatukan semua orang dari semua latar belakang. Menurunkan peran Islam berarti mencemarkan cerita tentang kopi.

Sumber:

- (Artwork credit: Postcard from Addis Abba; A Turkish Coffeehouse, Constantinople, 1854, by Amedeo Preziosi; An Arab Interior, 1881, by Arthur Melville)

- omerazizwriter.substack.com/p/the-islamic-history-of-coffee

Post a Comment for "Sejarah Kopi Islam Sebagai Fakta dari Cerita yang Ditinggalkan "