Ras Unggul berasal dari Indonesia Menurut Teori Stephen Oppenheimer dalam Bukunya ‘Eden in The East’

Kalau menurut kalian, siapa bangsa dan ras yang paling unggul di muka bumi? apakah Amerika, Rusia, Jerman, Inggris, Perancis atau China? Jawabannya bukan. apalagi, Menurut ahli DNA dari Oxford University, Stephen oppenheimer pada acara bedah bukunya berjudul Eden in the East, surga di timur bahwa induk peradaban manusia modern bukan berasal dari Mesir, bukan dari Mediterania dan tidak juga dari Mesopotamia, bukan pula dari barat, apalagi China. Tetapi peradaban manusia modern justru dari Indonesia

Teori Stephen Oppenheimer dalam Bukunya ‘Eden in The East’

Iya betul sekali, bangsa ini merupakan pewaris tunggal kejayaan bangsa-bangsa besar di masa lalu dan agaknya Profesor Arysio Santos dari Brazil pun selaras dengan teori Oppenheimer dalam buku ‘Atlantis The Lost Continent Finally Found’. Ia menyatakan bahwa titik Atlantis itu ada di Sundaland. Jadi, kita tidak pantas bersikap kerdil dengan memelihara Sindrom inferior akut alias Rasa Minder terhadap bangsa luar. Kenapa? Karena nenek moyang kita dulu adalah bangsa yang unggul. Nenek moyangnya bangsa-bangsa.

Lantas, kenapa ada sejarawan menyebut bahwa nenek moyang kita itu tidak beradab, bodoh, penyembah berhala?. Itu faktor penjajahan atau kolonisasi, yakni pembodohan, pengaburan dan pembengkokan sejarah oleh kaum penjajah. Menurut Juri Lina dalam buku ‘Architect of The Deception Secret of Freemansonry’. Ada tiga cara melemahkan dan menjajah suatu negeri, yaitu: 

  1. Kaburkan sejarahnya, 
  2. Hancurkan bukti-bukti sejarah bangsa itu hingga tidak bisa lagi diteliti dan dibuktikan kebenarannya, 
  3. Putuskan hubungan mereka dengan para leluhur dengan mengatakan bahwa leluhur itu bodoh dan primitif. 

Sejarah Nusantara ini dibikin oleh kaum penjajah seolah-olah hanya dimulai dari era kemerdekaan atau paling jauh di era raja-raja Nusantara dulu versi penjajah. Sebenarnya, ribuan tahun lalu Nusantara terbagi dalam tiga era. Era pertama disebut era Wangsa Keling. Wangsa artinya Bangsa, sedangkan Keling artinya Kuat. Jadi, Wangsa Keling maksudnya adalah bangsa yang kuat. 

BACA JUGA :  Kehebatan Dan Nasib Guru Honorer

Konon, di era ini leluhur kita berekspansi hingga Kamboja, Vietnam (Indocihna), Thailand, Burma, SriLanka India sampai ke Madagaskar. Raja yang terkenal bernama Syailendra. Tulisan yang dipakai adalah huruf Palawa, dimana modelnya menyerupai huruf Mesir Kuno dan Israel. Pusat pemerintahan di sekitar Jogja sampai ke wilayah Dieng. Maka, ketika Israel mengklaim masih keturunan Moria maksudnya adalah Gunung Muria di Dieng. Dieng artinya penguasa kemudian bergeser menjadi Dah Nyang atau Dayang yang artinya juga penguasa 

Setelah Wangsa Keling menghilang ditengarai munculnya situs Dieng maupun Candi Borobudur. Nah, habisnya era Wangsa keliling ditandai dengan bangunan Baqa’ atau Baqi yang artinya Kuburan atau Berakhir. Dan ditandai dengan berdirinya Candi Boko atau Bako. 

Era selanjutnya adalah era Medang Kamulyan. Medang artinya Kemajuan dan Kamulyan artinya Kemuliaan atau Kejayaan. Jadi, Medang Kamulyan adalah zaman kemajuan terutama bidang keagamaan. Agama lebih dititikberatkan dalam sistem pendidikan terpadu, mulai dari lingkup kecil hingga besar. Rajanya yang terkenal adalah Ratu Boko. Di era itu merupakan cikal bakal munculnya huruf Sansekerta yang dikenal oleh Aji Saka. Aji artinya sesuatu yang dihormati dan Saka artinya penyangga, cagak atau tiang. Nah, tiang jika bergeser ke China menjadi Tian atau Tuhan. Jadi, Aji Saka artinya sesuatu yang dihormati karena Tuhannya Atau segala sesuatu yang mengacu pada Tuhan yang sangat dihormati. Kemudian, huruf-huruf tadi akhirnya menjadi bahasa Sangsekerta. 

Jadi, Sangsekerta itu asli berasal dari bumi Nusantara atau Indonesia bukan dari India, Kenapa? di India tidak ada kata-kata Sang, jika berbasis kata Sang justru lebih dekat ke China, contohnya Chiang Kai Sek di mana Chiang oleh bangsa China dibaca Sang. Jadi, Sang itu berasal dari bahasa asli Indonesia tempo dulu yakni bahasa Saka. Huruf yang dipakai di era Ratu Boko adalah Sangsekerta. Kerta artinya 4 sedang Sang asal kata Wangsa atau Bangsa. Jadi, Sangsekerta itu 4 bangsa yang meliputi antara lain; pertama bangsa Chin yang meliputi; bangsa China sendiri, Vietnam, Laos dan Kamboja. Kedua, bangsa Thai meliputi; Burma dan Thailand. Ketiga, bangsa Afrika yakni Madagaskar, Srilanka, India dan lain-lain hingga Mesir disebut sebagai bangsa Afrika. Kempat, Bani Jawa yang terdiri atas bangsa atau suku Jawa, Sumatra, Papua sampai kepulauan Polinesia dan Hawai. 

BACA JUGA :  Hari Valentine Tanggal Merayakannya dan Sejarah Kelam Valentine Day yang Patut Diketahui

Hingga kini, Sangsekerta kuat pengaruhnya di India dan Srilanka. Dari keempat bangsa tersebut, penguasa yang terkenal ialah Ratu Boko. Jika, keempat unsur bangsa itu digabungkan, maka timbul istilah Nuswantoro atau Nusantara. Nusa artinya Pulau, Antara artinya jarak. Maka, makna nusantara adalah bangsa yang hidup di pulau-pulau yang tersebar dari kepulauan Polinesia di ujung timur hingga wilayah Madagaskar atau Afrika. 

Selanjutnya, dari era Medang Kamulyan berganti ke era Kahuripan. Kahuripan artinya kehidupan. Raja yang terkenal adalah Hayam Wuruk atau Brawijaya III yang terkenal dengan sebutan Jumadil Kubro sebagaimana makamnya di Troloyo, Trowulan, Mojokerto. Maksud kata Jumadil adalah Jum’ah atau Jum’at yang artinya berkumpul atau bersatu, sedangkan Kubro artinya Besar. Jadi, Jumadil Kubro maknanya adalah berkumpulnya sesuatu yang besar atau istilah Sansekerta disebut Sumpah Palapa. Melalui Sumpah Palapa Hayam Wuruk berhasrat membangun kembali Nusantara sebagaimana dulu pernah Gemilang di era Medang Kamulyan. Ia ingin menyatukan nusantara yang telah tercerai-berai menjadi beberapa kerajaan atau wilayah kecil-kecil. Dan Patih yang melegenda adalah Gajah Mada. Nah hal yang tidak tercatat atau dihilangkan oleh sejarah modern ialah Guratan atau Ukiran pada batu Sumpah Palapanya Gajah Mada, yang ternyata berlafadzkan LAILAHAILLALLAH, tiada tuhan kecuali Allah.

Itulah catatan yang hilang dari sejarah leluhur kita yang menurut Arysio Santos, leluhur kita merupakan nenek moyang bangsa-bangsa.

Baca juga: Sejarah Kopi Islam Sebagai Fakta dari Cerita yang Ditinggalkan

Referensi: https://youtu.be/mtdFwK511Gc 

Leave a Reply

Your email address will not be published.