Isi Khutbah Jum’at: Leluhur Indonesia yang Bertauhid dan Hikmah Sejarahnya

Mukadimah… isi khutbah pertama…
Jama’ah jum’at rahimakumullah, marilah kita senantiasa meningkatkan taqwa kepada Allah swt, mudah2an Allah memberikan gelar kemuliaan tersebut, sebagai jaminan kita untuk masuk kedalam surganya Allah.
Selanjutnya, salawat kepada nabi Muhammad saw. Sosok panutan dan suritauladan bagi kita dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, serta berkehidupan sosial masyarakat. 
Jama’ah jum’at rahimakumullah,
Kalo kita mengulas sejarah leluhur atau nenek moyang kita, sudah jadi cerita umum, banyak yang menyampaikan, klo nenek moyang indonesia itu; terbelakang, bodoh, primitif, kepercayaan animisme dan dinamisme. 
Nah, cerita tentang kebodohan, penyembah batu, penyembah roh, itu diajarin mulai kecil, sehingga terpatri di pikiran rata2 semua orang, nenek moyang kita itu dalam kebodohan dan kesesatan. Dan itu ditanamkan, di dalam otak secara berulang-ulang ke anak-anak kita, sampai-sampai muncul, namanya sindrom inferior atau rasa minder menghadapi bangsa luar. Jumpa dengan orang bule, kayaknya dalam pikiran kita udah down duluan. 
Itu sebenarnya fakta sejarah, atau manipulasi sejarah, yang dilakukan oleh penjajah Belanda. Kita bisa tanyak ke sarjana atau ilmuan sejarah, dimana manuskrip, naskah-naskah kuno, buku-buku karya empu-empu kita, mereka akan jawab; dibawak oleh belanda ke negerinya. Artinya untuk mempelajari fakta sejarah nenek moyang indonesia yang sebenarnya, maka harus datang ke negri belanda. Ini Terasah aneh memang, jama’ah jum’at rahimakumullah, tapi itulah kenyataannya.
Menurut Juri Lina dalam buku: ‘Architect of The Deception Secret of Freemansonry’. Ada tiga cara melemahkan dan menjajah suatu negeri, yaitu: 
  1. Kaburkan sejarahnya, 
  2. Hancurkan bukti-bukti sejarah bangsa itu, hingga tidak bisa lagi diteliti dan dibuktikan kebenarannya, 
  3. Putuskan hubungan mereka dengan para leluhur dengan mengatakan bahwa leluhur itu bodoh dan primitif. 
Nah, itu yang coba dilakukan oleh belanda, tidak sekedar menjarah kekayaan bumi nusantara, tapi juga mencoba menjajah sejarah indonesia.
Tapi, Saat ini, telah dikaji dan dilakukan penelitian, menurut ahli DNA dari Oxford University, Stephen Oppenheimer, dalam bukunya yang berjudul: Eden in the East, dengan tebal buku berjumlah 860 halaman, ternyata: induk beradaban bangsa-bangsa itu berasal dari nusantara (indonesia sekarang), bukan dari mesir, bukan dari mediterania, bukan jerman, inggris, amerika, ataupun china. 
Penelitian yang selaras juga dikemukakan oleh Prof. Arysio Santos dari Brazil, dalam bukunya yang berjudul: ‘Atlantis The Lost Continent Finally Found’. Ia menyebutkan bahwa titik Atlantis itu ada di Sundaland. 
Menurut sumber: tafsir al azhar, juzu’ I, tulisan buya Hamka. Syaikh Yusuf Tajul Khalwati berpendapat bahwa nabi adam turun di pulau serendib. Diduga pulau serendib adalah pulau ceylon (sri lanka), tetapi setelah dilakukan penelitian, kata serendib berasal dari bahasa sansekerta yang ditulis dalam bahasa arab, yang merujuk kepada kata Swarna Dwipa (Sumatera / pulau emas), yang merupakan bagian dari sundaland (sunda plat).
Jama’ah jum’at rahimakumullah
Kita takjub juga ya, sekiranya memang nabi adam di turunkan di Indonesia. Mungkin perlu dilakukan penelitian secara lebih mendalam lagi. Tapi tidak hanya itu, ada nama nabi lainnya, seperti nabi nuh, nabi dawud, nabi sulaiman, nabi syits yang dilekatkan dengan keindonesiaan. 
Dalam khutbah singkat ini, tidak bisa diceritakan ke semua itu, tapi sebagai contoh, misalnya: dari studi NAMI (Noah’s Ark Ministries International) peneliti dari kristen evangelis yang berbasis di hong kong, menyatakan: serpihan bahtera kapal nuh, telah diteliti secara mendalam dan hasilnya, bahwa kayu yang dibuat untuk kapal tersebut berasal dari kayu Jati. Dan semua orang tahu, kayu jati adanya di Indonesia. Jadi kira-kira, nabi Nuh as membuat kapalnya dan menanam pohon jatinya itu di Indonesia, dengan kata lain Nabi Nuh itu berasal dari Indonesia.
Menuju ke zaman kerajaan di Indonesia, ada yang populer seorang raja yang berkeinginan mempersatukan nusantara, bernama Brawijaya III alias Hayam Wuruk, atau yang dikenal dengan Jumadil Kubro. Kata Jumadil adalah Jum’ah atau Jum’at yang artinya berkumpul atau bersatu, sedangkan Kubro artinya Besar. Jadi, Jumadil Kubro maknanya adalah berkumpulnya sesuatu yang besar atau istilah bahasa Sansekerta disebut Sumpah Palapa. Melalui Sumpah Palapa, Hayam Wuruk berhasrat membangun kembali Nusantara sebagaimana dulu pernah Gemilang di era Medang Kamulyan. Ia ingin menyatukan nusantara yang telah tercerai-berai menjadi beberapa kerajaan atau wilayah kecil-kecil. Dan Patih yang melegenda adalah Gajah Mada. Nah, hal yang tidak tercatat atau dihilangkan oleh sejarah modern ialah Guratan atau Ukiran pada batu Sumpah Palapanya Gajah Mada, yang ternyata berlafadzkan LAILAHAILLALLAH, tiada tuhan kecuali Allah.
Ini memperjelas, bahwa, leluhur kita luar biasa hebatnya, jadi tak seperti yang digambarkan penjajah Belanda bahwa nenek moyang kita dalam kebodohan.
Lalu untuk memperjelas dalam hal keyakinan lelulur kita, bukanlah animisme ataupun dinamisme. Nabi Ibrahim as punya 4 istri:
  1. Hajar al-Qibthiyah al-Misriyah. Dari istri pertama ini, menjadi cikal bakal keturunan yang kita kenal, yakni bani Ismail, sampai nanti jalurnya ke Rasulullah.
  2. Sarah binti Paman Nabi Ibrahim as. Yang dikenal dengan nama Bani Ishaq, cikal bakal dari bangsa Yahudi.
  3. Siti Qantura binti Yaqtan al-Kan’aniyah. Dari Qantura ini melahirkan keturunan yang disebut Bani Jawi (yang didalamnya termasuk bangsa sunda, jawa, melayu sumatera, bugis, dan lainnya).
  4. Hajun binti amin
Nah, Ini terdapat dalam kitab ‘al-kamil fi al-Tarikh’ tulisan Ibnu Athir.   Dari istri ketiga nabi ibrahim ini, jelaslah indonesia sebagai millatu ibrahim dan pewaris agama tauhid. 
Sebelum para sahabat rasulullah datang ke indonesia, abad ke 7 di Barus. Kayakinan asli bumi nusantara adalah Kapitayan, artinya penyembah Sang Hyang Taya. Sang Hyang Taya itu, sesembahan yang bersifat Ghob, tidak bisa dibayangkan, tidak bisa dipikirkan, dan tidak bisa dilihat dengan pancaindra. Kepercayaan kapitayan adalah kepercayaan monoteisme, yang meyakini keberadaan dzat tunggal yang kuasa atas segala sesuatu.
Nah, kayakinan kapitayan ini, tentu menjadi warisan yang terbawa oleh anak-anak nabi Ibrahim melalui istri ketiganya, yaitu siti Qantura. Makanya ketika ajaran risalahnya nabi muhammad disampaikan oleh pendakwah atau utusan nabi ke Indonesia, bangsa kita mudah menerima agama tauhid ini (islam).
Contohnya bangsa melayu, gak ada yang tidak islam. Semua masuk islam, karna ajaran kapitayan itu, konsepnya sama seperti ajaran tauhid. Jadi kalo datang agama baru, yang memperlihatkan bentuk tuhan atau tuhan itu bisa dilihat ke nenek moyang kita dulu. Itu agama Gak laku sama mereka, dibuang jauh2lah ajaran itu sama mereka. Karna sudah merasuk ke alam bawah sadar penganut kapitayan, bahwa Tuhan itu tidak mungkin serupa dengan manusia (makhluk), yang bisa dilihat wujudnya maupun sifatnya. 
Sejarah singkat yang khatib kutip ini, semoga meluruskan persepsi, bahwa nenek moyang kita adalah orang-orang cerdas dalam beragama dan orang-orang hebat dalam bernegara.  
Alqur’an banyak menceritakan sejarah. Dalam Surat Hud ayat 120;
Surat Hud ayat 120
Islam bukanya hanya ritual ibadah saja, tapi sesungguhnya islam adalah agama dakwah. Tak mungkin kita indonesia berislam, kalo tidak mendapat dakwah dari utusan nabi. Sulit orang-orang mendapat hidayah islam, kalo juga tidak didakwahi.
Para nabi, para ulama, ustadz, mereka berdakwah dengan sulit untuk menyebarkan syiar islam. Bahkan perlu berkorban waktu, tenaga, harta sampai nyawa untuk menegakkan ajaran tauhid ini.
Jadi kisah-kisah perjuangan para rasul, kisah-kisah leluhur kita yang memperjuangkan nilai-nilai tauhid, itu akan memperteguh hati. Jika kita atau para pendakwah hari ini, mengalami sulitnya dalam berdakwah, itu belum ada apa-apanya dibandingkan dengan perjuangan dan pengorbanan orang-orang terdahulu. 
Leluhur kita itu, bisa menjadi inspirasi dalam mewariskan nilai-nilai kebaikan dan menjadi kebanggaan yang patut terus dicerikan ke setiap generasi. Yakinlah, rasa bangga terhadap nenek moyang yang bertauhid, akan membuat rasa malu orang-orang yang murtad dari jalur yang dulunya leluhur kita sudah menjaganya.
Fa’tabiru ya ulil albab 

Leave a Reply

Your email address will not be published.